Sumhaji benar-benar merasakan kian sulit mencari kapuk dari pohon randu. Untuk apa? “Saya ini eksporter kapuk randu. Ekspor sampai Eropa,” ujar Sumhaji.
Dulu, pohon randu banyak ditanam di pinggir-pinggir jalan. “Ketika jalan jalan dilebarkan habislah pohon randu,” katanya. Kini Sumhaji mencari kapuk randu sampai ke Sumbawa.
—
Di Eropa kapuk randu juga untuk bantal. Atau kasur. Tidak ada guling di sana. Guling tidak dikenal di budaya barat. Guling lahir di zaman Belanda menjajah Indonesia. Mereka datang tanpa istri. Malam-malam tidak ada yang dipeluk. Dibuatlah guling. Sejak itu guling punya terjemahan dalam bahasa Inggris: Dutch wife –itu terjemahan unik yang bisa dipercaya: ngawurnya.
Bantal dari kapuk randu pun kini kian langka. Digantikan poliester atau bulu angsa. “Di Eropa bantal dari kapuk randu naik daun lagi. Yakni sejak ada gerakan menyayangi binatang,” ujar Sumhaji.
Saya sendiri sudah lupa kapan terakhir pakai bantal kapuk randu. Kenangan saya pada bantal kapuk adalah kenangan buruk: banyak kutunya. Kutu busuk pula. Maka pekerjaan tambahan sebagai anak-anak adalah mencari kutu yang bersarang di pojok-pojok bantal: di jahitannya. Di situ pula kutu busuk bertelur dan beranak sehingga sangat sulit memberantasnya. Saya lupa kenapa belakangan kutu busuk seperti tiba-tiba lenyap di jagat bantal nusantara.
—
Tanpa muktamar ini saya tetap akan mengira sudah tidak ada lagi orang yang cari penghidupan dari kapuk randu. Ternyata masih jadi bisnis yang mengasilkan dolar.
Sumhaji pun saya ajak podcast bersama Sasa di Dismorning Minggu pagi lalu. Di situ Sumhaji berani menyebut diri sebagai ”profesor kapuk”. Ia memang ahli di bidang kapuk randu. “Di musim panas kapuk randu terasa lebih dingin. Di musim dingin terasa lebih hangat”, katanya.
—
Di masa kecil tidak ada istilah beli bantal. Bantal bisa dibuat sendiri: pakai kain sarung yang sudah diafkir. Sudah sobek sana-sini. Lalu diisi kapuk yang diambil dari pohon. Setiap mencari kapuk randu selalu dapat bonus: biji randu. Warnanya hitam. Sekecil butiran kedelai. Digoreng tanpa minyak. Saya masih ingat rasanya tapi sudah agak-agak lupa namanya. Klentheng?