Di tengah pidato dia juga memutar rekaman suara anaknyi yang sedang kuliah di Semarang sebagai bukti betapa martabat pribadinyi telah dihancurkan.
DPRD Gowa akhirnya membuat keputusan memakzulkan bupati Husniah.
Tentu Husniah tidak otomatis berhenti sebagai bupati. Yang berhak memberhentikan adalah menteri dalam negeri. Itulah sebabnya DPRD hanya bisa mengusulkan pemakzulan itu ke Kementerian dalam negeri.
Setelah putusan itu tersiar luas di medsos ternyata muncul perlawanan hukum. Basri Kajang pergi ke Makassar untuk melaporkan pribadi-pribadi anggota pansus ke polisi di sana: pencemaran nama baik. Juga melaporkan saksi-saksi sebagai telah memberikan kesaksian palsu. Basri juga mempersoalkan sidang-sidang pansus: kenapa sidangnya terbuka dan hasilnya diunggah ke YouTube.
“Saya terpaksa datang ke Makassar untuk melaporkan mereka ke polisi,” ujarnya. Laporan itu sudah ia masukkan ke Polda Sulsel. Rabu lalu. Basri didampingi pengacaranya: Jasri Jack. Juga ditemani sahabat karibnya: Zulfikar Yunus.
Ternyata sudah lama Basri lebih banyak tinggal di Balikpapan. Yakni sejak istrinya pindah ke Kaltim menjabat direktur pascasarjana di salah satu universitas swasta di Balikpapan. Di Balikpapan pula mereka bercerai. Dua tahun lalu. Kini tiga anak mereka ikut sang ibu.
Meski sudah bercerai, Basri, asal Sulsel, tetap tinggal di Balikpapan. Punya rumah sendiri. Rumahnya tidak jauh dari rumah mantan istrinya sehingga masih merasa dekat dengan tiga anaknya.
Ketika pansus bersidang dan videonya diunggah ke YouTube, anak-anak Basri sampai ada yang berhenti sekolah: tidak tahan malu di-bully teman-temannya.
“Laki-laki yang di video itu bukan bapakmu,” ujar Basri kepada anaknya seperti dikutipkan ke saya. “Bapak tidak berselingkuh dengan Bu Bupati Gowa,” ujar Basri.
Kenapa Basri tidak hadir saat persoalannya masih di pansus? Ia berpendapat pansus itu proses politik. Ia merasa tidak ada hubungan dengan persoalan politik.
Akhirnya Zulfikar –pernah berada di tim ahli militer Dr Salim Said– menjemput Basri ke Balikpapan. Zulfikar, budayawan dan penulis banyak buku, mengajak Basri pulang ke Makassar. Basri tinggal serumah dengan Zulfikar karena rumah Basri di sana sudah diberikan ke istri sebagai gono-gini. Lalu mengadu ke polisi.