Oleh: Dahlan Iskan

“Kamu pakai baju sebaik apa pun akan ada orang lain yang memakai baju lebih baik. Kamu pakai baju paling buruk yang kamu miliki pun masih ada orang yang memakai baju lebih buruk dari kamu”.

Itu bukan nasihat. Itu komentar ayah saat melihat kakak perempuan saya bingung cari pinjaman baju: untuk pergi ke acara kawinan. Saya masih kecil. Saya perhatikan ucapan Pak Iskan itu. Sangat membekas di hati. Kata-kata itulah yang berpengaruh pada sikap saya berpakaian: biasa-biasa saja. Yang penting pantas.

Mungkin saya salah. Begitu banyak perusuh Disway yang risi melihat foto saya di berbagai acara: dianggap kurang pantas. Saya pun mengakui penilaian itu. Benar. Dan saya berusaha berubah. Tapi tidak bisa bertahan lama. Kumat lagi.

Salah satu perubahan itu saya coba hari Sabtu kemarin.

Saya ke Malang –menghadiri undangan dari Ari Sufiati. Saya tidak sempat ngecek undangan apa itu. Saya berangkat dengan hoody hitam sederhana. Tapi saya membawa baju koko warna putih sebagai cadangan.

Di tengah jalan saya cari-cari undangan lewat WA itu. Ketemu. Ternyata bukan kawinan. Itu undangan ulang tahun. Saya lega: tidak perlu ganti baju. Hoody ini cukup untuk sebuah acara ultah.

Begitu turun di depan Omah Kendedes di Shanaya Resort saya kaget: kok undangan yang lain pakai dress. Yang berkebaya pakai kebaya keren. Berarti ini pesta. Hoody ini tidak cocok. Mobil sudah telanjur pergi ke tempat parkir. Tapi baju yang di mobil rasanya juga tidak cocok untuk pesta: kecuali di pesta itu saya ditunjuk sebagai pembaca doa.

Apalagi ketika melihat tampilan Ari Sufiati yang menyambut kedatangan saya: beautiful and the beast. Lalu saya ingat ayah: akan ada orang lain yang berbaju…..!

Ya sudah. Apa adanya saja.

Rasanya hanya sekali saya dapat pujian: saat tampil sebagai pembicara di seminar ahli jantung di Jakarta bulan lalu. Saya pakai jas. Serasi dengan celana. Tapi pujian itu segera diikuti sisi negatifnya: pakai jas kok sepatunya kets!

Semoga di acara kemarin itu tidak ada foto saya yang masuk medsos.