Yang sudah meninggal itu sama sekali bukan karena transplantasinya gagal. Saya lihat itu sepenuhnya faktor si pasien. Ups….Bisa juga bukan salah pasien. Mungkin keadaan yang salah. Ia tidak disiplin minum obat pasca-transplant. Misalnya saat saya bertemu dengannya: ia bilang sudah tiga bulan tidak minum obatnya.
Mungkin karena tidak mampu membelinya. Mungkin juga karena merasa kesehatannya baik-baik saja. Saya cenderung menilai dua-duanya.
Saya sendiri begitu takut untuk tidak minum obat itu. Tidak pernah lupa sehari pun. Termasuk ketika masih harus meminumnya dua kali sehari. Memang tidak murah. Total sekitar 7 juta sebulan.
Ada obat anti rejeksi –agar hati yang milik orang lain tidak ditolak oleh tuhuh si penerima. Anda sudah tahu sistem tubuh: benda asing apa pun harus ditolak. Termasuk hati anak maupun istri sendiri: sama-sama hati tapi tetap diperlakukan sebagai benda asing.
Lalu, kalau kerusakan hati itu akibat hepatitis B, harus minum obat anti hepatitis. Juga seumur hidup. Memang hepatitis B itu menyerang liver. Ketika livernya sudah ”dibuang”, diganti liver ”baru” bukankah harusnya hepatitisnya sudah ikut terbuang? Kenapa masih diharuskan minum obat?
Saya pernah mendiskusikannya dengan dokter transplat saya: ternyata sebenarnya virus hepatitis B itu tidak pernah benar-benar hilang dari sel di tubuh yang pernah menderitanya. Masih tetap ada ”bibit”-nya. Ngendon di sel tubuh.
Ketika saya minum obat itu ”bibit” tersebut ‘tidur’. Tidak bisa berkembang. Tapi begitu imunitas tubuh turun ”bibit” itu bisa hidup lagi. Berkembang. Lalu masuk ke hati: ”baru”.
Saya pun wanti-wanti ke Mas Olik: jangan sampai abai minum obat. “Kalau sampai virus hepatitis B itu masuk lagi ke hati ”baru”, berarti Anda menghina istri Anda. Hati Anda itu hatinya Nisa,” kata saya. Suami istri itu pun sangat paham.
Di bidang dua jenis obat itu, selama dua puluh tahun terakhir, masih sama. Saya sesekali bertanya: apakah ada obat yang lebih baru? Lebih hebat?
Saya menanyakannya karena siapa tahu sudah ada yang lebih aman untuk ginjal dan tidak mengurangi kepadatan tulang. Obat yang saya minum mengandung dua efek samping itu.