Anda sudah tahu: organ hati sangat lunak. Lewat sayatan 15 cm pun cukup. Yang penting saat ditarik tetap utuh. Tidak remuk. Yang mudah remuk itu kalau hati sudah dibakar jadi sate.

Sesulit apa pun penarikan dari perut pendonor, lebih sulit saat melakukan pemotongannya. Dokter lebih hebat dari insinyur elektro yang bertugas melepaskan kabel-kabel super komputer. Kabelnya masih bisa dilihat oleh mata. Yang dilepas dalam pemotongan hati adalah syaraf-syaraf halus, tidak terlihat oleh mata, jumlahnya luar biasa banyak –saya tidak punya kemampuan menghitungnya. Juga harus memotong saluran-saluran darah yang tidak kalah lembutnya dan banyaknya.

Tentu lebih sulit lagi memasangnya di tubuh pasien: menyambungkan seluruh syaraf dan pembuluh darah saat hati dari pendonor dipasang di pasien. Sangat rumit. Jauh lebih mudah keluarkan saja fatwa: itu haram!

“Nisa, coba Anda ukur, bekas sayatan di perut Anda berapa sentimeter?” tanya saya ke Nisa lewat WA. Saya terpaksa merepotkan Nisa karena tidak mungkin mengukurnyi sendiri: Mas Olik, suaminyi bisa melotot.

“10 cm Pak,” jawabnyi.

Nisa adalah S-1 keperawatan alumnus Universitas Airlangga. Pasangan dari Mojosari (猫草沙利) Mojokerto ini masih berumur 40 tahun lebih. Nisa kian langsing dan cantik. Itu karena, setelah sehat lagi, suaminyi tambah segar, terlihat lebih muda dan lebih ganteng.

Berarti sayatan dalam teknologi robot lebih minimalis dari yang terjadi di RS Fatmawati. Itu tidak terlalu penting. Yang penting sudah kian bertambah rumah sakit di dalam negeri yang mampu melaksanakan transplantasi.

RS Cipto Mangunkusumo sudah beberapa kali melakukannya. Tim dokter transplannya sudah bisa dibilang matang. RS Siloam Jakarta juga sudah beberapa kali melakukan. Kini RS Fatmawati mulai mencobanya dengan pendampingan dari Korea.

Kalau ditanya orang yang ingin transplan hati –tidak sedikit yang menanyakan itu– biasanya saya sarankan ke RSCM atau RS Siloam Jakarta. Saya berikan juga nama dan nomor HP orang yang sudah sukses menjalaninya. Misalnya seorang perwira menengah polisi yang melakukan transplantasi hati di RS Siloam. Saat itu pangkatnya masih kapten. Sekarang sudah kolonel polisi (Kombespol). Beliau selalu bersedia ketika saya tanya apakah nomor HP-nya boleh saya berikan ke orang yang ingin transplan. Hanya saja saya kehilangan nomor orang yang sudah sukses di RSCM. Yang nomor teleponnya masih ada di HP saya orangnya sudah tidak ada. Saya perlu mencari siapa yang lain yang juga masih sukses sampai sekarang.