Kadang ia juga yang mendorong kursi roda.

Semua itu ia kerjakan dengan sepenuh hati. Secara probono. Ia tidak perlu dapat apa-apa dari saya. Rasanya tabungan uang Robert lebih banyak dari tabungan saya. Persahabatan kami sangat murni. Saya sering minta maaf ke Dorothi, istrinya, yang begitu lama ditinggalkannya untuk saya.

“Ia sudah biasa lama meninggalkan saya,” ujar Dorothi lantas tertawa kecil seperti kebiasaannya.

Robert memang menjadi komisaris di beberapa perusahaan Hong Kong. Harus sering ke Hong Kong. Juga ke negara-negara di mana perusahaan itu punya wilayah operasi. Juga untuk main golf.

“Sudah main golf di negara mana saja?” tanya saya suatu saat.

“Sebut saja negaranya. Lalu saya jawab sudah atau belum,” jawabnya.

Bahkan Robert pernah ”sekolah” manajemen lapangan golf dengan cara magang di lapangan golf terbaik di dunia: St Andrews, Skotlandia. Yakni saat Robert mendapat tugas dari perdana menteri (waktu itu) Lee Kuan Yew untuk mengelola lapangan golf di Singapura.

Sejak pandemi Covid-19 hubungan saya dan Robert renggang. Ia tidak mau lagi ke Surabaya. Ke Jakarta. Ke Beijing. Ke Tianjin. Amerika. Tidak mau diajak ke mana saja. Padahal, sejak 30 tahun lalu, ke mana pun saya pergi ada Robert di sebelah saya.

“Saya harus menjaga istri,” ujar Robert. “Saya tidak mau lagi meninggalkan Dorothi sendirian,” tambahnya.

Dorothi memang kurang sehat. Tiga anak mereka sudah mandiri –satu di Kuala Lumpur satunya lagi di California. Yang di Amerika itu, Michelle, beberapa kali tampil di podcast diwawancara soal bitcoin dan artificial intelligence.

Sesekali saya-lah yang menengoknya di Singapura. Saya berhutang nyawa kepadanya. Saya juga sering melankolis kalau ke luar negeri sendirian. Tidak ada lagi Robert bersama saya. Pengetahuan Robert sangat dalam. Kami sering bicara filsafat bersamanya. Filsafat hidup. Juga filsafat bisnis.

Dari Robert saya tahu perbedaan antara bisnis bersama orang Hong Kong dan orang Singapura. Di Hong Kong, bos bertemu bos untuk menyepakati bisnis baru. Anak buah mencarikan jalan agar kesepakatan itu bisa terwujud. Kalau ada aturan yang menghalanginya tugas anak buah untuk mencarikan jalan keluar. Termasuk mencari terobosan.