Dianggap murahan, saya pun ”tersinggung”. Saya terbang ke Amerika. Ke New York. Saya ingin tahu: apa alasan New York Times tetap terbit hitam putih. Sedangkan harian USA Today sudah berwarna.
Saya pun dapat jawabnya: percetakan NYT itu sangat besar. Tidak mudah mengubahnya jadi berwarna. Begitu banyak mesin yang harus ”dibuang”. Begitu mahal kalau harus membeli mesin berwarna dalam jumlah besar sekaligus. Bahkan harus membeli tanah baru. Membangun gedung baru. Gedung lama sudah penuh dengan mesin hitam putih. Kalau pun punya uangnya, tidak bisa cepat merealisasikannya.
Lima tahun kemudian NYT terbit berwarna.
Pun Kompas. Saya tersenyum dengan penuh kemenangan yang ternyata, kemenangan itu, kelak, juga tidak ada gunanya.
Saya membayangkan betapa berat mengubah kereta bawah tanah New York untuk jadi serba-digital. Lebih berat lagi mengubah kereta Indonesia. (Dahlan Iskan)