Kelak, setelah New York punya kereta api bawah tanah yang pakai listrik London juga berubah. Tidak ada lagi asap batu bara di terowongan kereta bawah tanahnya.

Kasus seperti itu tidak hanya dialami di sektor kereta bawah tanah. Cobalah Anda berdiri di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Tatapkan mata ke sepanjang jalan itu. Lalau pindahkan mata ke sepanjang jalan Casablanca. Di sepotong bagian itu terlihat Jakarta lebih indah daripada New York. Itu karena gedung-gedung tinggi di Jakarta dibangun di saat ilmu arsitektur dan ilmu material sudah berkembang sangat maju.

Di zaman pembangunan New York dulu ahli arsitektur kalah oleh ahli teknik sipil. Keindahan kalah oleh kekuatan dan keamanan gedung.

Zaman itu ”indah” dipertentangkan dengan ”kokoh”.

Setelah itu ilmu material sangat maju didukung ilmu kimia. Dulu yang terkait dengan material selalu bermuara di ilmu metalurgi. Kini, bahkan, sudah ada universitas yang menghapus jurusan metalurgi digabung ke ilmu material.

Anda sudah tahu: para arsitek lama sulit mencari bahan yang tipis tapi kuat. Bentuk indah yang mereka inginkan sulit terwujud. Pun bahan yang lentur; selalu punya kelemahan mudah patah.

Kini, dengan kemajuan ilmu bahan, sudah tersedia material ”yang tipis tapi kuat”. Atau ”yang lentur tapi tidak mudah patah”. Saya sering mengatakan kepada para arsitek: “Arsitek di zaman ini sangat dimanjakan oleh ketersediaan material yang sangat beraneka ragam”.

Maka saya membayangkan alangkah mahalnya bila New York harus mengganti jaringan kereta bawah tanahnya yang kuno dengan yang serba-digital seperti di Tiongkok.

Jaringan kereta bawah tanah New York sudah sekitar 400 km. Berarti panjang relnya sudah sekitar 1000 km. Merombak barang sebanyak itu alangkah beratnya.

Memikirkan teknologi kereta bawah tanah itu saya ingat masa lalu: Jawa Pos adalah koran pertama di Indonesia yang fotonya berwarna. Kompas ngotot terbit hitam putih. Koran berwarna dianggap terlalu pop. Murahan. Koran hitam putih lebih elegan. Bermutu.

Saya ingat salah satu alasan bertahan yang dipakai Kompas: “New York Times saja tetap hitam putih”. NYT adalah koran paling bergengsi di dunia.