Amerika yang kaya pun ternyata tidak menggratiskan MBG bagi semua siswa. Berarti MBG Indonesia lebih hebat –kalau tidak ada gejolak akibat korupsi di dalamnya.
Di hari-hari libur panjang sekolah seperti sekarang ini MBG Indonesia juga libur. Tentu ini waktu yang baik untuk konsolidasi. Ibarat orang yang sedang berlari tanpa henti selama hampir satu tahun kini sedang diberi waktu istirahat. Bisa tarik napas panjang. Bisa ikatkan tali sepatu yang longgar.
Dapur-dapur MBG sudah mendapat edaran: libur tiga minggu. Tidak perlu masak dan menyajikan makanan. Sungguh waktu yang baik untuk berbenah sambil tarif napas –bukan berbenah sambil lari. Misalnya untuk menata ulang seluruh dapur: siapa yang benar-benar satu dapur melayani 3000 siswa, siapa pula yang satu dapur hanya melayani 2.500, 2000, 1.500 bahkan 1000 siswa. Jangan lagi banyak satu dapur yang hanya melayani 1.500 siswa padahal anggarannya 3.000 siswa.
Konsolidasi seperti ini sulit dilakukan kalau tidak ada libur panjang. Belum lagi penataan yang lain-lain. Misalnya bagaimana status dapur yang sudah ditunjuk oleh pimpinan lama tapi belum dapat izin untuk dioperasikan. Padahal investor sudah hampir selesai membangun dapurnya.
Surat edaran yang baru dari kepala BGN baru Nanik S. Deyang belum mengatur itu. Mereka harus diberi kepastian karena sudah telanjur investasi.
Begitu banyak pekerjaan konsolidasi. Memang Deyang harus menangis. Tapi jangan lama-lama dan jangan sering-sering. Urusan ini tidak bisa selesai dengan air mata. Kalau mau menangis lari dulu ke kamar kecil. Nangis sepuasnya. Lalu segera cuci muka seolah bukan baru menangis.
Di masa libur ini ganti para petugas dapur MBG yang menangis: tidak dapat penghasilan. Tiap dapur punya 50 orang. Tangisan mereka jauh lebih penting dari tangisnya seorang Deyang.
Sebenarnya kalau saja investasi belum telanjur besar, MBG bisa ditata seperti yang dialami Kemal di Amerika. Mungkin lima tahun lagi: setelah nilai investasi dapur MBG itu pay back.
Para ilmuwan tamu Prof Sirry tentu tidak membahas MBG. Masing-masing mengajukan topik diskusi. Mulai dari gejala menurun drastisnya santri di pondok pesantren tradisional, bagaimana bisa semua kitab suci mengandung ajaran kekerasan, bagaimana ketakutan melakukan dosa makan babi lebih ditaati daripada berbuat dosa melakukan korupsi, sampai bagaimana baru agama Katolik yang mau mengakui ada kebenaran di luar Katolik.