Menurut dr. Sena, perubahan drastis seperti ini bisa mengubah cara kerja kafein di dalam tubuh. Alih-alih membantu meredakan sakit kepala, kafein justru bisa memperparah kondisi dan memicu migrain.
Pola Konsumsi Tidak Konsisten Juga Jadi Pemicu Migrain
Tidak hanya soal jumlah, pola waktu konsumsi kafein juga memegang peran penting. Dr. Sena menjelaskan bahwa kebiasaan yang tidak konsisten dapat memicu gangguan pada tubuh.
Misalnya, seseorang yang biasanya rutin minum kopi setiap pagi, lalu tiba-tiba mengubahnya menjadi siang atau malam, bisa mengalami perubahan respons tubuh terhadap kafein. Ketidakstabilan ini dapat memicu munculnya sakit kepala.
Lebih jauh lagi, kondisi yang lebih ekstrem juga bisa terjadi ketika seseorang tiba-tiba berhenti mengonsumsi kafein setelah terbiasa rutin mengonsumsinya. Tubuh yang sudah beradaptasi kemudian bereaksi terhadap perubahan tersebut.
Efek “Withdrawal” Kafein
Kondisi lain yang tak kalah penting adalah efek withdrawal atau putus kafein. Ketika seseorang terbiasa mengonsumsi kafein setiap hari lalu menghentikannya secara mendadak, tubuh bisa bereaksi dengan munculnya sakit kepala.
“Perubahan seperti itu yang tadinya banyak kopinya terus tiba-tiba mendadak maka itu pun juga bisa menyebabkan gejala sakit kepalanya akibat withdrawal atau berhenti yang mendadak dari si kafein tersebut,” jelas dr. Sena.
Kondisi ini semakin menegaskan bahwa kafein bekerja sangat bergantung pada pola konsumsi. Tubuh tidak hanya bereaksi terhadap jumlah, tetapi juga terhadap perubahan kebiasaan yang terjadi secara tiba-tiba.
Bukan Kafeinnya yang Salah, Tapi Cara Menggunakannya
Dari seluruh penjelasan tersebut, satu hal penting yang perlu dipahami adalah kafein bukanlah “musuh” utama. Masalah muncul ketika seseorang tidak menjaga konsistensi dalam mengonsumsinya.
Dr. Sena menegaskan bahwa kunci utamanya terletak pada cara penggunaan kafein. Pola yang berubah-ubah, baik dari segi jumlah maupun waktu konsumsi, dapat mengganggu keseimbangan tubuh dan memicu migrain.