Suara daerah paling lantang datang dari luar Hotel J.W. Marriott. Nun jauh dari Siak, Riau. Bupatinya bernama Dr Afni Z, MSi. Bupati baru. Dia tidak merasa cukup dengan forum “Reboan”. Afni sampai kirim surat langsung ke presiden.
Jangankan bagi hasil tahun ini, bagi hasil tahun lalu dan tahun sebelumnya pun belum dibayar penuh. Total tunggakan itu mencapai hampir Rp500 miliar. Yang ditunggu tahun ini juga Rp500 miliar.
Afni jadi bupati melalui jalan yang panjang. Sampai dua kali proses peradilan di mahkamah konstitusi. Dia tidak pakai dana serangan fajar atau dana beli perahu untuk pencalonan. Modalnyi hanya nama besarnya sebagai putra daerah yang bergelar doktor dan pernah menjadi pemimpin redaksi sebuah koran di Riau –yang pimpinan di pusatnya Anda sudah tahu.
Afni gundah karena ingin segera melaksanakan janji-janji kampanye dulu. Dia minta perhatian pusat. Dia jadi bupati bukan berangkat dari nol tapi dari minus. Dia dapat warisan utang Rp 300 miliar dari bupati pendahulu.
“Kabupaten Siak ini punya sejarah besar,” katanyi. Wilayah ini dulunya kerajaan Melayu yang besar: kerajaan Siak Sri Indrapura. Kekuasaannya sampai Temasek, Johor dan Melaka. Belakangan Siak punya Raja ternama yang Anda sudah tahu: Sultan Syarif Kasim II. Raja itu menyerahkan harta dan wilayahnya begitu saja untuk perjuangan berdirinya Republik Indonesia.
Tidak hanya kepala daerah yang “salah mongso”. Pun presiden. Siapa sangka terjadi perang berlarut antara Amerika/Israel dengan Iran. Padahal program besar seperti MBG dan KMP sudah telanjur mulai habiskan banyak uang negara.
Daripada keinginan bupati dan wali kota tentu keinginan presiden yang lebih dimenangkan. Maka jangan mau jadi bupati/wali kota. Jadilah presiden! (Dahlan Iskan)