Menurut Irwan sejak dulu warga Betawi dan Tionghoa hidup rukun. Sampai tahun 1960-an di tiap lorong dan tempat di Jakarta terdapat pedagang Tionghoa. Mereka membuka warung dan berdagang bahan pokok termasuk rempah-rempah. Masyarakat tidak pernah mempersoalkan kehadiran mereka.

 

“Bahkan, kata Irwan, banyak nama warung yang kemudian terkenal sebagai nama tempat hingga saat ini. Seperti Jl Warung Buncit, karena Cina pemilik warung di sini perutnya gendut alias buncit. Nama Warung Pedok di Tebet, karena Cina pemilik warung kakinya dengdek (pedok),” tulis Alwi.

Alwi mendapat informasi letak warung itu dari warga setempat, HA Mas’ud Mardani, yaitu di antara Jalan Mampang Prapatan XIV dan XIII yang kini menjadi bangunan empat lantai milik Yayasan Madrasah Sa’adutdarain. “Sekalipun warung dan pemiliknya sudah lenyap, nama Warung Buncit sampai kini tetap melekat,” tulis Alwi di Republika, 24 Juli 2005.

Versi kedua yang “serupa tapi tak sama” terdapat dalam buku 212 Asal Usul Djakarta Tempo Doeloe karya Zaenuddin HM. Disebutkan bahwa nama Warung Buncit berasal dari warung milik seorang Tionghoa bernama Bun Tjit, bukan badannya yang buncit.

Versi ketiga yang berbeda diceritakan Yahya Andi Saputra, budayawan dari Betawi Kita. Menurutnya, asal-muasal Warung Buncit merujuk pada bahasa Betawi arkais (kuno) yang artinya pos paling ujung atau paling belakang yang ditempati pasukan Kesultanan Mataram dalam penyerbuan ke Kastil Batavia (1628-1629).

“Yang menceritakan ada orang Tionghoa yang buka warung kelontong perutnya buncit, itu ilmu ‘Kirata’, ilmu dikira-kira supaya nyata. Cerita fiktif belaka. Warung itu kalau dalam bahasa Betawi arkais, artinya pos, tempat ngaso (istirahat) atau tempat atur strategi. Buncit itu menunjuk nama tempat yang paling belakang. Jadi Warung Buncit artinya pos paling belakang untuk konsentrasi pasukan dalam pengepungan Kastil Batavia,” tutur Yahya kepada Media di wawancara tersebut.