Para pelaku pasar melihat bahwa stimulus atau kebijakan di tingkat nasional belum cukup kuat untuk menandingi derasnya arus keluar modal asing. Hal ini menciptakan ketimpangan antara permintaan dan penawaran valuta asing di pasar spot, yang akhirnya menarik nilai tukar rupiah ke zona merah.

Bank Indonesia Siapkan ‘Benteng’ Intervensi

Meskipun rupiah sedang berada di bawah tekanan hebat, Lukman memprediksi bahwa pelemahan ini tidak akan dibiarkan berlangsung tanpa kendali. Level Rp18.000 merupakan angka psikologis yang sangat krusial bagi stabilitas ekonomi nasional. Oleh karena itu, Bank Indonesia (BI) diyakini akan mengambil langkah-langkah luar biasa.

“Mengingat rupiah sudah mendekati bahkan menembus level psikologi baru, kami memperkirakan Bank Indonesia akan melakukan intervensi secara agresif di pasar keuangan,” tegas Lukman.

Intervensi ini biasanya melibatkan operasi di pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), pasar spot, hingga pasar obligasi. Langkah tersebut bertujuan untuk menjaga agar volatilitas nilai tukar tetap berada dalam batas yang wajar dan tidak menimbulkan kepanikan massal di masyarakat maupun sektor industri yang bergantung pada barang impor.

Proyeksi Pergerakan Selanjutnya

Berdasarkan analisis teknikal dan fundamental terkini, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan sangat fluktuatif dalam beberapa hari ke depan. Lukman memproyeksikan mata uang Garuda akan bergerak dalam rentang harga yang cukup lebar.

“Kami melihat kisaran pergerakan rupiah akan berada di level Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS untuk sisa perdagangan pekan ini,” pungkasnya.

Pemerintah dan otoritas moneter kini memikul tugas berat untuk meyakinkan pasar bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga di tengah badai global. Tanpa adanya katalis positif yang kuat dari dalam negeri, rupiah kemungkinan besar masih akan terus berdansa mengikuti irama penguatan dolar AS dan dinamika konflik global yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.