finnews.id – Tekanan kerja yang terus meningkat membuat banyak pekerja mulai kehilangan semangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Di tengah budaya hustle yang mendorong seseorang untuk terus produktif dan mengejar target, risiko mengalami burnout atau kelelahan kerja semakin besar.
Dokter spesialis kejiwaan dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr. Adhitya S Ramadianto, SpKJ(K), mengingatkan para pekerja untuk meluangkan waktu untuk beristirahat dan melakukan hal-hal yang menyenangkan menjadi langkah penting untuk mencegah burnout.
“Kalau memang sudah mulai merasa burnout, kehilangan motivasi, bisa dilihat dari lingkup yang paling kecil dari diri sendiri. Mungkin memang kita lagi butuh istirahat, hal-hal yang bisa bikin kita lebih bersemangat, lebih rileks,” ujar Adhitya dikutip dari ANTARA.
Kenali Tanda Burnout Sebelum Terlambat
Burnout tidak muncul secara tiba-tiba. Kondisi ini biasanya berkembang secara perlahan ketika seseorang terus menghadapi tekanan tanpa memiliki waktu yang cukup untuk memulihkan energi.
Adhitya menjelaskan bahwa burnout ditandai dengan rasa lelah yang sangat kuat terhadap pekerjaan. Bahkan, tingkat kelelahan tersebut sering kali tidak lagi sebanding dengan beban kerja yang dijalani.
Akibatnya, seseorang mulai kehilangan keterlibatan emosional terhadap pekerjaannya. Mereka tidak lagi menikmati proses bekerja dan merasa tidak mendapatkan kepuasan maupun pencapaian dari hasil yang diperoleh.
Kondisi ini dapat memengaruhi produktivitas, motivasi, hingga kualitas hidup secara keseluruhan. Oleh karena itu, mengenali gejala burnout sejak awal menjadi langkah penting agar dampaknya tidak semakin besar.
Beban Kerja dan Kemampuan Harus Tetap Seimbang
Menurut Adhitya, burnout muncul dari interaksi antara tuntutan pekerjaan dan kemampuan seseorang dalam menghadapinya. Ketika keseimbangan tersebut terganggu, risiko kelelahan mental dan emosional akan meningkat.
Dalam lingkungan kerja yang sarat tekanan, pekerja sering kali dituntut untuk terus menunjukkan performa terbaik. Di sisi lain, mereka belum tentu mendapatkan apresiasi, penghargaan, atau dukungan yang memadai.