finnews.id – Asam lambung yang sering naik atau kambuh berulang kali tidak selalu disebabkan oleh makanan pedas atau terlambat makan. Dalam banyak kasus, ada kebiasaan sehari-hari yang tanpa disadari justru menjadi pemicu utama munculnya keluhan seperti dada terasa panas, mual, perut kembung, hingga sensasi pahit di mulut.

Jika gejala asam lambung sering muncul, ada baiknya mengenali berbagai faktor yang mungkin selama ini luput dari perhatian.

Mengapa Asam Lambung Bisa Naik?

Asam lambung naik terjadi ketika cairan lambung mengalir kembali ke kerongkongan. Kondisi ini biasanya terjadi karena katup antara lambung dan kerongkongan melemah atau tidak menutup dengan sempurna.

Akibatnya, asam lambung dapat naik dan menimbulkan rasa tidak nyaman yang dikenal sebagai refluks asam atau gastroesophageal reflux disease (GERD) jika terjadi berulang.

Kebiasaan Makan Terlalu Cepat

Banyak orang terbiasa makan dalam waktu singkat karena kesibukan. Padahal, makan terlalu cepat membuat udara lebih banyak masuk ke saluran pencernaan dan dapat meningkatkan tekanan di dalam lambung.

Selain itu, proses pencernaan menjadi kurang optimal sehingga memicu rasa penuh, begah, dan meningkatkan risiko asam lambung naik.

Langsung Berbaring Setelah Makan

Kebiasaan rebahan atau tidur setelah makan sering dianggap sepele. Padahal, posisi tubuh yang datar memudahkan isi lambung mengalir kembali ke kerongkongan.

Para ahli umumnya menyarankan memberi jeda setidaknya dua hingga tiga jam setelah makan sebelum berbaring atau tidur.

Stres yang Berkepanjangan

Kondisi emosional ternyata memiliki hubungan erat dengan kesehatan pencernaan. Saat stres, tubuh dapat menghasilkan respons yang membuat gejala asam lambung terasa lebih parah.

Beberapa orang bahkan mengalami kambuhnya nyeri ulu hati, mual, atau rasa panas di dada ketika menghadapi tekanan pekerjaan, masalah keluarga, atau kurang istirahat.

Terlalu Banyak Minum Kopi dan Minuman Berkafein

Kopi memang menjadi teman favorit saat bekerja atau beraktivitas. Namun, konsumsi berlebihan dapat merangsang produksi asam lambung dan membuat katup kerongkongan bagian bawah menjadi lebih rileks.

Akibatnya, risiko refluks asam meningkat, terutama pada orang yang memang memiliki riwayat GERD.