finnews.id – Flu dan batuk sering dianggap sebagai penyakit ringan yang bisa sembuh sendiri. Karena itu, banyak orang langsung membeli obat di apotek tanpa memahami kandungan maupun fungsi obat yang dikonsumsi. Padahal, memilih obat flu dan batuk secara sembarangan bisa membuat gejala tidak kunjung membaik, bahkan memicu efek samping tertentu.
Batuk dan flu memiliki banyak jenis gejala. Ada yang disertai demam, hidung tersumbat, tenggorokan sakit, hingga batuk berdahak atau batuk kering. Setiap kondisi membutuhkan penanganan berbeda. Inilah alasan mengapa penting untuk memahami cara memilih obat flu dan batuk yang tepat sebelum mengonsumsinya.
Kenali Dulu Jenis Gejala yang Dialami
Langkah pertama sebelum membeli obat adalah mengenali gejala utama yang dirasakan. Banyak orang hanya fokus pada kata “flu” atau “batuk”, padahal keluhan yang muncul bisa sangat berbeda.
Jika hidung tersumbat menjadi masalah utama, biasanya dibutuhkan obat dekongestan untuk membantu melegakan saluran pernapasan. Sementara jika yang dominan adalah bersin dan mata berair, obat antihistamin sering digunakan untuk membantu mengurangi reaksi tersebut.
Untuk batuk, penting membedakan antara batuk kering dan batuk berdahak. Batuk kering umumnya memerlukan penekan batuk agar tenggorokan tidak terus teriritasi. Sebaliknya, batuk berdahak lebih membutuhkan obat pengencer dahak agar lendir lebih mudah dikeluarkan.
Memilih obat yang tidak sesuai justru dapat memperburuk kondisi. Misalnya, penggunaan penekan batuk pada batuk berdahak dapat membuat lendir tertahan di saluran pernapasan.
Perhatikan Kandungan dalam Obat
Satu jenis obat flu dan batuk sering kali memiliki beberapa kandungan sekaligus. Karena itu, membaca label kemasan sangat penting sebelum membeli.
Paracetamol biasanya digunakan untuk membantu menurunkan demam dan meredakan nyeri tubuh. Pseudoephedrine umum ditemukan pada obat pilek untuk membantu mengurangi hidung tersumbat. Dextromethorphan digunakan untuk batuk kering, sedangkan guaifenesin lebih sering dipakai sebagai pengencer dahak.
Beberapa obat juga mengandung antihistamin yang dapat menyebabkan kantuk. Efek ini perlu diperhatikan terutama bagi orang yang harus mengemudi atau bekerja menggunakan konsentrasi tinggi.
Menurut lembaga kesehatan internasional seperti Centers for Disease Control and Prevention (CDC), penggunaan obat harus disesuaikan dengan gejala yang benar-benar dirasakan agar tidak terjadi konsumsi zat yang sebenarnya tidak diperlukan.