“Tidakkah Anda keberatan uang suami banyak dipakai beli wayang kuno?” tanya saya kepada istri Njoo. Dia dan putrinyilah yang menyambut rombongan kami.

“Bagaimana lagi. Ini hobi berat suami saya,” katanyi.

Saya perkirakan Njoo habis uang banyak –termasuk untuk membeli rumah kuno tiga lantai itu. Masih pula harus membeli rumah di seberangnya: untuk museum toko kelontong zaman dulu. Berbagai model toko kelontong masa lalu ditampilkan. Saya keliling toko-toko itu sambil tersenyum-senyum –ingat ada barang apa saja yang dipajang di zaman itu.

Museum toko kelontong ini kian terasa unik setelah generasi baru hanya tahu Indomaret dan Alfamart. Lebih unik lagi kalau generasi yang akan datang, di tahun 2050 kelak, tahunya hanya kios Koperasi Desa Merah Putih.

Saya pernah punya teman yang uangnya juga habis untuk urus kegiatan sosial: sepak bola. Ia keturunan Arab. Tinggalnya di kampung Arab di Ampel Surabaya. Uang dan waktunya habis untuk sepak bola. Usahanya pun tidak terlalu diurus. Suatu saat saya bertanya kepadanya: apakah istrinya tidak marah?

“Ya marah-marah awalnya,” jawabnya.

“Lalu bagaimana jawaban Anda kepada istri?”

“Saya jawab: hobi saya kan cuma ini. Saya kan tidak hobi perempuan,” katanya.

Jawaban itu jadi kunci selamanya. Istrinya tidak pernah komplain lagi.

Di museum wayang ini saya otomatis membandingkannya dengan rumah-rumah bersejarah di Banda. Di sana ada ibu tua yang duduk apatis di pojokan. Di museum wayang ini ada Dea. Putri Njoo. Muda. Cantik. Modern. Antusias.

Awalnya saya ragu kalau gadis ini putri pemiliknya. Wajahnyi sangat Tionghoa. Matanyi sangat cendekia. Tapi ngomong tentang wayang begitu tahunya. “Saya mencoba mendalaminya,” ujar Dea

“Anda alumnus mana?”

“Universitas Ciputra. Jurusan bisnis internasional,” jawab Dea.

Dea bercerita papanya suka sekali nonton wayang. Sejak kecil ibunya selalu bercerita tentang wayang. Njoo juga suka ludruk dan ketoprak. “Tiap malam papa nyetel ludruk Kartolo sebagai pengantar tidur,” ujar Dea.

Papa Dea juga penggemar Si Unyil. Utamanya Pak Raden. Papa Dea sering kirim surat ke Pak Raden. Sampai akhirnya bisa bertemu Pak Raden.