finnews.id – Sebuah tragedi besar mengguncang industri pertambangan China setelah ledakan terjadi di tambang batu bara wilayah Provinsi Shanxi. Sedikitnya 82 pekerja tambang dilaporkan meninggal dunia akibat paparan asap dan gas beracun yang memenuhi lorong bawah tanah.
Insiden tersebut langsung menjadi perhatian nasional karena termasuk salah satu kecelakaan tambang paling mematikan di China dalam beberapa tahun terakhir. Mayoritas korban diduga kehilangan kesadaran setelah menghirup gas beracun dalam jumlah tinggi saat mencoba menyelamatkan diri.
Media pemerintah China menyebut kadar karbon monoksida di area tambang ditemukan melampaui batas aman setelah ledakan terjadi. Hingga kini, penyebab pasti insiden masih dalam tahap investigasi.
Kepanikan Terjadi saat Asap Mendadak Muncul
Kesaksian korban selamat menggambarkan situasi mencekam di dalam tambang ketika bencana terjadi. Salah satu penambang bernama Wang Yong mengatakan dirinya tidak mendengar suara ledakan keras, tetapi tiba-tiba melihat asap pekat memenuhi area kerja.
“Saya mencium bau sulfur seperti saat peledakan dilakukan. Saya langsung berteriak meminta semua orang lari,” ujarnya kepada media pemerintah China.
Menurut Wang, para pekerja berusaha berlari menuju jalur keluar sambil menahan sesak napas akibat asap beracun yang semakin tebal.
“Saat kami berlari, saya melihat orang-orang mulai roboh satu per satu. Tidak lama kemudian saya juga pingsan,” katanya.
Ia mengaku baru sadar sekitar satu jam kemudian sebelum akhirnya berhasil keluar bersama seorang pekerja lain yang selamat.
Operasi Penyelamatan Terkendala Kondisi Tambang
Pemerintah China langsung mengirim tim penyelamat dalam jumlah besar ke lokasi kejadian. Kementerian Manajemen Darurat China mengerahkan sekitar 345 personel dari enam tim penyelamatan untuk membantu proses evakuasi korban.
Namun operasi penyelamatan berjalan sangat sulit. Air dilaporkan menggenangi area dekat titik ledakan sehingga menghambat akses menuju beberapa lorong tambang bawah tanah.
Tim penyelamat juga menghadapi masalah lain setelah blueprint atau peta struktur tambang yang diberikan ternyata tidak sesuai dengan kondisi nyata di lapangan. Situasi itu membuat pencarian korban menjadi lebih lambat dan berbahaya.