Finnews.id – TEKNO Menatap layar ponsel pintar hari ini terasa jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Tanpa disadari, kita telah melangkah masuk ke era di mana kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) bukan lagi sekadar bumbu film fiksi ilmiah.

Mulai dari algoritma media sosial yang menebak isi pikiran kita, asisten virtual pembantu rutinitas, hingga generator teks dan gambar otomatis, AI kini telah menyusup pelan dan menyentuh hampir seluruh sendi kehidupan modern kita.

Optimisme tinggi di ranah digital

Bagaimana masyarakat Indonesia memandang fenomena ini?

Alih-alih takut digantikan oleh robot, mayoritas masyarakat tanah air justru menunjukkan tingkat penerimaan yang sangat terbuka dan adaptif terhadap kehadiran AI. Optimisme ini tentu didukung oleh fondasi digital Indonesia yang kian kokoh dari tahun ke tahun.

Berdasarkan laporan terbaru dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), tingkat penetrasi internet di Indonesia kini telah menembus angka 81,72 persen. Ini berarti ada sekitar 235 juta jiwa penduduk Indonesia yang kini aktif berselancar di dunia maya.

Kemudahan akses internet ini berbanding lurus dengan kegemaran masyarakat dalam bersosialisasi secara digital. Laporan tahunan We Are Social mengungkapkan bahwa jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia telah menyentuh angka 180 juta pengguna, atau setara dengan 62,9 persen dari total populasi.

Dengan ekosistem digital yang begitu masif, tidak heran jika adopsi teknologi baru seperti AI melesat tanpa hambatan. Bahkan, laporan yang sama menyebutkan bahwa lebih dari sepertiga warganet Indonesia sudah rutin menggunakan platform AI seperti DeepSeek, Google Gemini, dan ChatGPT setiap bulannya untuk berbagai kebutuhan.

Penggunaan AI tidak lagi terbatas di ruang laboratorium komputer perusahaan raksasa, melainkan sudah membumi di tangan masyarakat awam dari berbagai latar belakang usia dan profesi.

Dampak negatif dan tantangan ke depan

Seperti halnya teknologi baru lainnya, kehadiran AI di Indonesia layaknya pisau bermata dua. Di satu sisi, manfaat positifnya sangat jelas, yakni mendongkrak produktivitas kerja, menghemat waktu operasional, mengatasi keterbatasan bahasa, dan membuka ruang kreativitas baru tanpa batas bagi semua kalangan.