Harga Mahal Jadi Kendala Suporter
Selain tiket pertandingan yang dianggap mahal, biaya akomodasi dan transportasi lokal di Amerika Serikat juga disebut menjadi faktor utama yang mengurangi minat wisatawan internasional.
Di beberapa kota tuan rumah, harga hotel masih berada di atas 300 dolar AS per malam. Angka tersebut dinilai terlalu tinggi bagi banyak fans yang datang dengan anggaran terbatas.
Banyak pendukung akhirnya memilih alternatif lain seperti Airbnb atau menginap jauh dari pusat kota demi menghemat biaya perjalanan.
Salah satu suporter Inggris yang diwawancarai BBC Sport mengaku memilih menyewa mobil dan mencari penginapan sekitar 45 menit hingga satu jam dari lokasi pertandingan agar pengeluaran tetap terkendali.
Strategi tersebut mulai menjadi tren di kalangan fans internasional yang lebih memilih fleksibilitas dan biaya murah dibanding hotel premium di pusat kota.
Airbnb Justru Diuntungkan
Saat hotel mulai kehilangan optimisme, Airbnb justru melihat peluang besar dari Piala Dunia 2026. Platform penyewaan properti itu menyebut turnamen kali ini berpotensi menjadi event hosting terbesar dalam sejarah mereka.
Fenomena tersebut menunjukkan adanya perubahan perilaku wisatawan global. Banyak suporter kini lebih memilih akomodasi berbasis rumah atau apartemen karena dinilai lebih murah dan fleksibel dibanding hotel konvensional.
Jika tren ini terus berlangsung, industri hotel kemungkinan harus mengandalkan fase gugur turnamen untuk mendapatkan peningkatan okupansi mendadak dari suporter yang melakukan perjalanan spontan.
Namun hingga kini, banyak pihak mulai meragukan apakah Piala Dunia 2026 benar-benar mampu menghadirkan dampak ekonomi sebesar prediksi awal.
Sebelumnya, studi yang dirilis FIFA memperkirakan turnamen ini bisa menciptakan sekitar 185 ribu lapangan kerja dan menyumbang lebih dari 17 miliar dolar AS terhadap produk domestik bruto Amerika Serikat.
Akan tetapi, lemahnya pemesanan hotel mulai menjadi sinyal bahwa realisasi di lapangan mungkin tidak akan semegah proyeksi di atas kertas.