finnews.id – Kembalinya Jose Mourinho ke kursi pelatih Real Madrid menjadi salah satu kabar terbesar di sepak bola Eropa musim ini. Setelah lebih dari satu dekade meninggalkan Santiago Bernabeu dengan berbagai kontroversi, Mourinho kini dipercaya kembali untuk memimpin proyek baru klub raksasa Spanyol tersebut.
Keputusan itu muncul di tengah situasi yang tidak stabil di internal Madrid. Klub disebut sedang mengalami keretakan ruang ganti, hubungan antarpemain yang memburuk, hingga kegagalan meraih trofi besar dalam dua musim terakhir. Presiden klub, Florentino Perez, akhirnya memilih sosok lama yang dianggap memahami tekanan dan kultur keras di Bernabeu.
Kehadiran Mourinho juga menandai perubahan arah Real Madrid. Klub kini dinilai membutuhkan figur kuat yang mampu mengendalikan ruang ganti dan mengembalikan mental juara yang mulai memudar dalam beberapa musim terakhir.
Mourinho dan Hubungan Panjang dengan Real Madrid
Mourinho pertama kali melatih Real Madrid pada periode 2010 hingga 2013. Saat itu ia datang dengan reputasi besar setelah membawa Inter Milan meraih treble winners.
Di Madrid, Mourinho sukses mempersembahkan gelar La Liga dan Copa del Rey. Meski tidak berhasil memenangkan Liga Champions, era tersebut tetap dikenang karena persaingan panas melawan Barcelona asuhan Pep Guardiola.
Namun periode pertama Mourinho di Madrid juga penuh konflik. Ia beberapa kali berselisih dengan pemain senior, media Spanyol, hingga wasit. Situasi ruang ganti menjadi tegang menjelang akhir masa jabatannya dan akhirnya Mourinho meninggalkan klub pada 2013.
Kini, 13 tahun kemudian, Madrid justru kembali memanggil sosok yang dulu pergi dalam suasana panas.
Florentino Perez Percaya kepada Mourinho
Menurut laporan BBC, Florentino Perez melihat Mourinho sebagai pelatih yang paling sesuai dengan kondisi Real Madrid saat ini. Klub disebut membutuhkan figur dengan karakter keras untuk mengatasi berbagai masalah internal.
Perez bahkan secara terbuka menyinggung adanya tekanan media, kritik terhadap klub, hingga suasana “melawan semua pihak” yang kini dianggap melekat di lingkungan Real Madrid. Filosofi itu dinilai cocok dengan gaya Mourinho yang selama ini dikenal membangun mentalitas “kami melawan dunia”.
Situasi ruang ganti Madrid juga disebut tidak kondusif. Beberapa pemain dikabarkan memiliki hubungan yang kurang harmonis, sementara performa tim di lapangan dianggap kehilangan intensitas.
Dalam kondisi seperti itu, Mourinho dipandang sebagai sosok yang mampu membawa disiplin dan ketegasan.