Lebih jauh, tangguhnya saham BBTN juga salah satunya karena tidak memiliki eksposur terhadap kredit koperasi berbasis valas. Hal itu karena fokus utama BTN berada pada penyaluran kredit, terutama di sektor properti.
“Karena ada Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi dan nonsubsidi yang tidak berhubungan langsung dengan fluktuasi kursus mata uang asing,” ucap Nafan.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata menilai saham BBTN saat ini menjadi yang paling murah di kelompok bank besar dari sisi valuasi. Menurutnya, BBTN diperdagangkan dengan PBV sekitar 0,54 kali dan price earning ratio (PER) yang masih berada di level single digit rendah.
Ia mengatakan valuasi murah BBTN ditopang pertumbuhan laba dan kredit yang solid sepanjang kuartal pertama 2026. Liza juga mengatakan BBTN mulai masuk kategori deep value play karena diperdagangkan di kisaran PER 5,36 kali. Meski laba perseroan masih tumbuh double digit dan posisinya tetap strategis sebagai pemain utama KPR nasional.
Namun, ia menilai pasar masih memberikan diskon cukup besar terhadap BBTN. Lantaran sensitivitas perseroan terhadap cost of fund, likuiditas, dan siklus suku bunga properti dinilai lebih tinggi dibandingkan bank sejenis.
“Karena itu, BBTN lebih cocok untuk investor dengan profil agresif yang percaya pada peluang penurunan suku bunga di semester kedua 2026,” tulis Liza dalam risetnya, dikutip Selasa, 19 Mei 2026.
Tak hanya itu praktisi pasar modal, Hans Kwee menilai saat ini valuasi saham-saham blue chip dan perbankan terbilang murah. Salah satunya saham BBTN yang mampu ditutup menghijau.
Kepercayaan investor terhadap emiten BUMN itu tidak lepas dari sisi fundamental yang solid. Hingga kuartal I 2026, BBTN mencatatkan perolehan laba bersih senilai Rp1,1 triliun atau tumbuh 22,6% year-on-year (YoY). Capaian tersebut didukung penyaluran kredit senilai Rp 400,63 triliun atau naik 10,3% YoY.
Penyaluran kredit yang positif juga ditopang penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) BBTN senilai Rp 422,63 triliun. Jumlah tersebut meningkat 9,9% YoY dari Rp 384,70 triliun di kuartal I 2025. Current account and savings account (CASA) BBTN juga tercatat naik 7,9% YoY menjadi Rp 212,11 triliun, berkontribusi sebesar 50,2% dari total DPK.