Pernyataan tersebut menjadi perhatian pasar karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan minyak paling strategis di dunia. Ketegangan di kawasan itu sering memicu lonjakan volatilitas pasar mata uang dan komoditas global.
Investor Tunggu Respons Iran dan Data Ekonomi Penting
Selain memantau perkembangan konflik geopolitik, investor saat ini juga memilih wait and see terhadap respons Iran atas proposal damai yang diajukan Amerika Serikat.
Pelaku pasar juga tengah menunggu sejumlah data ekonomi penting yang dinilai dapat memengaruhi arah pergerakan rupiah dan dolar AS.
Dari dalam negeri, pasar menanti rilis data cadangan devisa Indonesia pada siang hari. Sementara dari Amerika Serikat, perhatian tertuju pada data tenaga kerja nonfarm payrolls (NFP) yang dijadwalkan rilis malam nanti.
Data NFP sering menjadi indikator utama bagi pelaku pasar untuk membaca arah kebijakan suku bunga The Fed. Jika data tenaga kerja AS menunjukkan hasil kuat, dolar AS berpotensi semakin menguat.
“Range kurs rupiah hari ini diperkirakan Rp17.300 – Rp17.400 per dolar AS,” ujar Lukman.
Putusan Pengadilan AS soal Tarif Trump Jadi Sorotan
Selain isu Timur Tengah, pasar juga mulai mencermati keputusan pengadilan perdagangan federal Amerika Serikat yang menyatakan kebijakan tarif impor 100% milik Donald Trump sebagai tindakan ilegal.
Lukman menilai keputusan tersebut berpotensi ikut memengaruhi sentimen pasar terhadap dolar AS dan rupiah.
“Seharusnya, meskipun fokus investor masih pada kesepakatan damai dimana banyak investor mengharapkan Iran menyetujuinya dalam waktu dekat ini,” jelasnya.
Kebijakan tarif global 10% yang sebelumnya diumumkan Trump akhirnya dinyatakan tidak sah oleh Pengadilan Perdagangan Internasional AS di Manhattan.
Putusan itu menjadi pukulan baru bagi agenda ekonomi Trump setelah Mahkamah Agung AS sebelumnya juga membatalkan pungutan serupa.
Panel hakim mengabulkan gugatan yang diajukan kelompok usaha kecil dan puluhan negara bagian yang mayoritas dipimpin Partai Demokrat. Trump sebelumnya memberlakukan kebijakan tarif tersebut menggunakan Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan 1974, regulasi yang belum pernah digunakan sebelumnya.
Rupiah Masih Dibayangi Ketidakpastian Global
Pergerakan rupiah dalam jangka pendek diperkirakan masih sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan data ekonomi Amerika Serikat. Konflik Timur Tengah, arah kebijakan tarif Trump, hingga data ketenagakerjaan AS menjadi kombinasi sentimen yang terus membayangi pasar.
- analisis rupiah hari ini
- AS - Iran
- cadangan devisa Indonesia
- dampak baku tembak Selat Hormuz ke rupiah
- data NFP AS
- Dolar AS
- Donald Trump
- Donald Trump dan konflik Iran terbaru
- faktor pelemahan rupiah Mei 2026
- Geopolitik Timur Tengah
- kurs dolar hari ini
- kurs rupiah hari ini terhadap dolar Amerika
- Nilai Tukar Rupiah
- pasar keuangan global
- pengaruh data NFP terhadap rupiah
- penyebab rupiah turun terhadap dolar AS
- pergerakan dolar AS terhadap rupiah 2026
- Rupiah
- rupiah melemah
- rupiah melemah akibat konflik AS Iran
- Selat Hormuz
- sentimen pasar global terhadap rupiah