Menurut Ibrahim, laporan itu menjadi sinyal kuat bahwa kedua negara berada dalam posisi paling dekat menuju kesepakatan sejak konflik dimulai.
“Media AS, Axios, melaporkan bahwa AS mengharapkan tanggapan Iran mengenai beberapa poin penting dalam 48 jam ke depan. Ini adalah kesepakatan terdekat yang pernah dicapai kedua pihak sejak perang dimulai,” tutur Ibrahim.
Meski begitu, pasar tetap berhati-hati setelah Presiden AS Donald Trump menilai pembicaraan langsung dengan Teheran masih terlalu dini.
Pasar Tunggu Data Pengangguran dan Arah Suku Bunga The Fed
Selain isu geopolitik, investor global juga mencermati sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Pelaku pasar saat ini menunggu data Klaim Pengangguran Awal AS serta pidato pejabat Federal Reserve.
Pasar juga menanti rilis data ketenagakerjaan AS periode April yang diperkirakan akan memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed.
Data tenaga kerja AS menjadi perhatian karena dapat menentukan langkah berikutnya terkait suku bunga acuan, yang selama ini menjadi faktor utama pergerakan dolar AS dan arus modal global.
Harga Energi Naik, Risiko Kenaikan BBM Mulai Mengintai
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai tekanan fiskal Indonesia mulai meningkat akibat lonjakan harga energi global dan membengkaknya potensi subsidi energi.
Menurut dia, peluang penyesuaian harga bahan bakar minyak atau BBM semakin terbuka jika harga minyak mentah dunia terus bertahan tinggi.
“Potensi penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) kian terbuka seiring tekanan fiskal yang meningkat akibat lonjakan harga energi global,” jelas Ibrahim.
Ia menambahkan, kondisi geopolitik global yang memanas turut mendorong kenaikan crack spread atau selisih harga minyak mentah dengan produk turunannya seperti BBM.
Akibatnya, beban subsidi energi berpotensi melampaui asumsi dalam APBN.
“Dengan crack yang masih tinggi, biaya subsidi bisa jadi lebih besar dari perhitungan pemerintah di APBN. Ini membuat kapasitas fiskal menjadi terkonstrain,” ungkapnya.
Harga Brent USD120 per Barel Bisa Jadi Alarm Baru
Ibrahim memperingatkan, jika harga minyak Brent bertahan di level USD120 per barel dalam beberapa bulan ke depan, maka penyesuaian harga BBM akan semakin sulit dihindari.
- analisis rupiah hari ini terhadap dolar AS
- AS - Iran
- dampak perang Timur Tengah terhadap rupiah
- Dolar AS
- Harga BBM
- harga minyak Brent dan risiko kenaikan BBM
- harga minyak dunia
- Ibrahim Assuaibi
- Kurs Rupiah
- kurs rupiah terhadap dolar AS terbaru
- peluang kenaikan BBM di Indonesia 2026
- pengaruh The Fed terhadap rupiah
- penyebab dolar AS melemah hari ini
- Perang Timur Tengah
- rupiah hari ini
- Rupiah Menguat
- rupiah menguat akibat perdamaian AS Iran
- The Fed