Dari bandara ini saya diantar menuju mulut jalan tol terdekat. Yakni mulut darurat masuk jalan tol yang belum dioperasikan. Saya kembali melewati jembatan satwa yang melintang di atas jalan tol. Saya pelototi jembatan itu. Tidak ada urang utan yang lewat. Di jembatan satwa satunya lagi saya juga memicingkan mata. Tidak tampak. Mungkin karena saat saya lewat di situ tidak waktunya azan salat asar.
Di pertengahan jalan tol ini saya exit: ke jalan lama ke arah jalan tol jurusan Balikpapan-Samarinda.
Di jalan tol, kang Sahidin mengingatkan saya: waktunya live Persebaya. Ia tahu kalau sedang asyik menulis naskah untuk Disway saya lupa segala-galanya. Tepat menjelang magrib kami tiba di rumah istri. Ucapan sambutan untuk saya berupa laporan hasil pertandingan –mengira saya lupa nonton. (Dahlan Iskan)