Kondisi ini memunculkan kekhawatiran pasokan energi global terganggu lebih lama, terutama dengan masih membayangi risiko distribusi dari kawasan Selat Hormuz.
Kenaikan harga minyak memberi efek berantai terhadap aset lain. Harga emas justru terkoreksi 2 persen ke bawah level US$4.600 per ons. Sementara nikel melesat 2 persen mendekati US$20.000 per ton, didorong kekhawatiran pasokan global, termasuk dari Indonesia.
IHSG Dekati Support Kritis, Asing Masih Net Sell
Dari dalam negeri, IHSG kembali tertekan dan mendekati area support gap 7.022. Aksi jual investor asing masih mendominasi pasar reguler, dengan total outflow mencapai Rp42,7 triliun sepanjang tahun berjalan.
Angka tersebut bahkan melampaui rata-rata arus keluar tahunan dalam tiga tahun terakhir yang berada di kisaran Rp40 triliun.
Saham-saham perbankan kapitalisasi jumbo masih menjadi pusat tekanan. BBCA disebut menyumbang hampir 60 persen dari total outflow asing sepanjang tahun ini, menandakan investor global masih mengurangi posisi di aset berisiko Indonesia.
Di pasar valuta asing, rupiah bertahan di sekitar Rp17.200 per dolar AS, level yang dipandang menjadi titik intervensi baru Bank Indonesia.
IHSG Oversold, Peluang Rebound Terbuka?
Meski tekanan masih besar, pasar mulai melihat peluang technical rebound karena IHSG sudah masuk area oversold. Namun, sinyal pembalikan arah belum terbentuk solid.
Potensi volatilitas tetap tinggi, terutama menjelang libur bursa 1 Mei yang berpotensi memicu lanjutan aksi profit taking dan defensive selling pada perdagangan berikutnya.
Sentimen Domestik: Fiskal, Energi, hingga Subsidi Jadi Perhatian
Dari sisi fiskal, rencana pemangkasan kuota MBG dari lima hari menjadi empat hari diperkirakan memberi ruang anggaran sekitar Rp50 triliun. Kebijakan ini dinilai dapat membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap pelebaran defisit fiskal yang sebelumnya menekan rupiah.
Di sektor energi dan industri, pemerintah berencana memangkas bea masuk impor plastik kemasan menjadi nol persen selama enam bulan mulai Mei 2026, bersamaan dengan pembebasan bea masuk LPG. Kebijakan itu diarahkan untuk meredam tekanan biaya akibat lonjakan harga minyak global.
Saham Pilihan Jadi Sorotan: GOTO, TAPG, MYOR hingga BULL
GOTO Cetak Laba Perdana
GoTo Group mencuri perhatian setelah membukukan laba bersih perdana Rp257 miliar pada kuartal I 2026, berbalik dari rugi Rp283 miliar pada periode sama tahun lalu.