finnews.id – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada penutupan perdagangan Rabu (29/4/2026). Rupiah melemah 83 poin atau 0,48 persen ke level Rp17.326 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.243 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya permintaan aset aman (safe haven) di tengah memanasnya situasi geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah.
Analis dari Indonesia Commodity and Derivatives Exchange, Muhammad Amru Syifa, menyebut stabilnya indeks dolar AS di level tinggi turut memperberat pergerakan mata uang Garuda.
“Rupiah tertekan oleh kuatnya dolar AS dan meningkatnya permintaan safe haven akibat ketegangan geopolitik,” ujarnya di Jakarta.
Kenaikan harga energi global juga memicu kekhawatiran inflasi, yang pada akhirnya memperkuat dolar AS. Kondisi ini mendorong arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain itu, kebijakan suku bunga tinggi yang masih dipertahankan oleh Federal Reserve semakin membatasi ruang penguatan rupiah.
Pasar juga dibayangi ketidakpastian terkait pergantian pimpinan bank sentral AS. Jika pengganti Jerome Powell memiliki kebijakan lebih agresif (hawkish), maka tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut.
Dari dalam negeri, kondisi ekonomi Indonesia dinilai tetap solid. Inflasi masih berada dalam target, sementara suku bunga acuan Bank Indonesia berada di level 4,75 persen guna menjaga stabilitas nilai tukar.
Pertumbuhan ekonomi yang stabil dan sistem keuangan yang kuat menjadi penopang utama di tengah tekanan eksternal.
Namun demikian, dominasi faktor global membuat pergerakan rupiah masih rentan terhadap sentimen eksternal.
Untuk meredam gejolak, Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar valuta asing, baik melalui pasar spot maupun instrumen Non-Deliverable Forward (NDF) dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
Langkah ini dinilai efektif untuk menjaga stabilitas rupiah tanpa harus menguras cadangan devisa secara besar-besaran.
Pelaku pasar kini cenderung bersikap hati-hati menjelang rilis sejumlah data penting, seperti inflasi April dan neraca perdagangan Maret.