Home Market IHSG Rebound di Tengah Guncangan OpenAI dan OPEC, Bursa Asia Campur Aduk Saat Harga Minyak Memanas
Market

IHSG Rebound di Tengah Guncangan OpenAI dan OPEC, Bursa Asia Campur Aduk Saat Harga Minyak Memanas

Bagikan
IHSG rebound tipis ke 7.080 saat sentimen OpenAI, keluarnya UEA dari OPEC, dan lonjakan harga minyak mengguncang pasar Asia.
Ilustrasi - Perdagangan saham di BEI
Bagikan

Keputusan UEA meninggalkan OPEC mulai 1 Mei dinilai menjadi pukulan bagi kartel minyak dunia dan memicu kekhawatiran baru soal stabilitas produksi energi global.

Di saat bersamaan, sentimen teknologi terguncang setelah laporan menyebut pertumbuhan pendapatan dan pengguna baru OpenAI berada di bawah target perusahaan.

Kekhawatiran bertambah setelah laporan menyebut Chief Financial Officer OpenAI Sarah Friar mencemaskan kemampuan perusahaan memenuhi kontrak komputasi di masa depan bila pendapatan utama tidak tumbuh sesuai ekspektasi.

Sentimen itu memukul Wall Street semalam dan menular ke Asia.

China dan Hong Kong Menguat, Australia Melemah

Meski sentimen global memanas, sejumlah bursa Asia masih mencatat penguatan.

Indeks Shanghai naik 0,40 persen, Shenzhen melesat 1,58 persen, CSI 300 menguat 0,64 persen, Hang Seng bertambah 1,29 persen, sementara Kospi naik 0,72 persen.

Namun tidak semua pasar ikut reli. Taiex Taiwan turun 0,13 persen dan S&P/ASX200 Australia melemah 0,25 persen.

Nikkei dan Topix Jepang libur, membuat fokus investor bergeser ke China dan Hong Kong yang relatif lebih kuat menopang sentimen regional.

Rupiah Melemah Saat Dolar Menggigit

Dari pasar mata uang, tekanan terlihat pada rupiah yang turun 0,47 persen ke level 17.324 per dolar AS.

Di kawasan Asia, pergerakan mata uang juga beragam. Yen melemah, dolar Singapura menguat tipis, dolar Australia terkoreksi, sementara ringgit justru menanjak.

Fluktuasi ini mempertegas investor tengah bergerak hati-hati menghadapi kombinasi risiko geopolitik, energi, dan arah suku bunga global.

Harga Minyak Melonjak, Pasar Khawatir Gangguan Pasokan Memburuk

Salah satu sentimen paling panas datang dari energi. Harga minyak naik setelah laporan menyebut Amerika Serikat akan memperpanjang blokade pelabuhan Iran.

Pasar membaca langkah ini sebagai ancaman baru bagi pasokan minyak Timur Tengah.

Minyak Brent kontrak Juni naik 0,47 persen ke US$111,78 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) bertambah 0,57 persen ke US$100,50 per barel.

Bagikan
Artikel Terkait
Market

Harga BBM 1 Mei 2026 Berpotensi Naik Lagi? Ini Sinyal Penyesuaian Tahap 2 dari Pemerintah

Jika tren harga minyak dunia terus meningkat, bukan tidak mungkin harga BBM...

ISAT mencetak laba bersih Rp1,49 triliun pada kuartal I-2026, ditopang pertumbuhan pendapatan dua digit dan penguatan aset perseroan.
Market

Laba ISAT Melonjak di Awal 2026, Indosat Panen Rp1,49 Triliun Saat Pendapatan Tembus Rp15,22 Triliun

Kinerja ini menunjukkan pertumbuhan Indosat tidak hanya bertumpu pada ekspansi pendapatan, tetapi...

Harga CPO bergerak tipis di tengah lonjakan minyak mentah, penguatan ringgit, dan produksi sawit Indonesia yang diproyeksi melonjak tajam.
Market

Harga CPO Tertahan di Tengah Gejolak Global, Minyak Mentah Menguat Saat Produksi Sawit RI Meledak

Mata uang Malaysia yang lebih kuat membuat harga sawit menjadi relatif lebih...

Ilustrasi pergerakan IHSG - Image by Gemini -
Market

IHSG Rebound ke 7.100, Saham Teknologi Ngegas! Ada 3 Rekomendasi Cuan Saat Asing Masih Kabur

Pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup terkoreksi 0,48 persen ke level 7.072 dengan...