Home Market Harga CPO Tertahan di Tengah Gejolak Global, Minyak Mentah Menguat Saat Produksi Sawit RI Meledak
Market

Harga CPO Tertahan di Tengah Gejolak Global, Minyak Mentah Menguat Saat Produksi Sawit RI Meledak

Bagikan
Harga CPO bergerak tipis di tengah lonjakan minyak mentah, penguatan ringgit, dan produksi sawit Indonesia yang diproyeksi melonjak tajam.
Ilustrasi - Sawit sebagai bahan baku CPO
Bagikan

Mata uang Malaysia yang lebih kuat membuat harga sawit menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.

Kondisi ini menahan agresivitas pembelian dan membuat pasar bergerak hati-hati.

Bagi investor komoditas, kombinasi minyak yang bullish dan ringgit yang menguat kini menjadi tarik-menarik utama dalam pembentukan harga CPO.

Ekspor Malaysia Turun, Tapi Produksi Sawit RI Melonjak Tajam

Dari sisi fundamental, pasar juga mencermati penurunan ekspor minyak sawit Malaysia.

Surveyor kargo memperkirakan ekspor produk sawit Malaysia sepanjang 1-25 April turun antara 15,7 persen hingga 16,8 persen dibanding bulan sebelumnya.

Penurunan ekspor ini menjadi sinyal perlambatan permintaan yang ikut membayangi pasar.

Namun di saat bersamaan, pasar dikejutkan proyeksi produksi dari Indonesia.

BUMN sawit Agrinas Palma Nusantara memperkirakan produksi CPO tahun ini mencapai sekitar 2 juta ton, hampir dua kali lipat dari proyeksi sebelumnya sebesar 1,07 juta ton.

Lonjakan produksi ini memberi sentimen besar karena Indonesia merupakan pemain utama pasar minyak sawit global.

Jika realisasi produksi sesuai proyeksi, pasar bisa menghadapi dinamika baru antara kenaikan suplai dan permintaan energi.

Dalian dan Chicago Beri Sinyal Campuran untuk CPO

Pergerakan minyak nabati pesaing juga ikut memengaruhi arah sawit.

Di Dalian, kontrak soyoil paling aktif naik 0,25 persen, sementara kontrak minyak sawit turun 0,21 persen.

Sementara di Chicago Board of Trade, harga minyak kedelai terkoreksi 0,1 persen.

Karena sawit bersaing di pasar vegetable oil global, perubahan harga minyak nabati pesaing selalu menjadi faktor penting bagi pembentukan harga CPO.

Sinyal yang beragam dari pasar eksternal inilah yang membuat harga sawit belum menemukan momentum breakout.

Support 4.475 Ringgit Jadi Level Krusial

Dari sisi teknikal, pasar juga menyoroti level penting yang bisa menentukan arah berikutnya.

Analis teknikal Reuters Wang Tao menilai harga sawit berpotensi menguji support di 4.475 ringgit per ton.

Bagikan
Artikel Terkait
Market

Industri MICE Jadi Motor Pariwisata Indonesia, Ini Dampak Ekonominya

Di tingkat domestik, pergerakan wisatawan nusantara bahkan menembus angka 1,2 miliar perjalanan,...

Market

Imbas Kecelakaan Kereta, Penumpang LRT Jabodebek Terjadi Lonjakan Signifikan

finnews.id – Gangguan operasional kereta api yang terjadi di wilayah Bekasi, berdampak...

Market

Tinjau Destinasi Unggulan, Menteri Pariwisata Optimalkan Potensi Samosir

Dalam kesempatan tersebut, Menteri bahkan duduk di Batu Kursi Persidangan yang dahulu...

UEA keluar dari OPEC mulai 1 Mei 2026 memicu kekhawatiran pasar minyak global. Pengamat dorong reformasi migas untuk hadapi gejolak energi.
Market

UEA Keluar dari OPEC Bikin Pasar Minyak Waswas, Harga Energi Dunia Terancam Bergejolak

Menurutnya, tantangan global seperti keluarnya UEA dari OPEC menunjukkan pentingnya ketahanan energi...