Home Market Harga CPO Tertahan di Tengah Gejolak Global, Minyak Mentah Menguat Saat Produksi Sawit RI Meledak
Market

Harga CPO Tertahan di Tengah Gejolak Global, Minyak Mentah Menguat Saat Produksi Sawit RI Meledak

Bagikan
Harga CPO bergerak tipis di tengah lonjakan minyak mentah, penguatan ringgit, dan produksi sawit Indonesia yang diproyeksi melonjak tajam.
Ilustrasi - Sawit sebagai bahan baku CPO
Bagikan

finnews.id — Pergerakan harga crude palm oil (CPO) siang ini terlihat tenang, tetapi pasar sejatinya sedang berada dalam tarik-menarik sentimen besar. Investor memantau tiga faktor yang kini menjadi penentu arah: lonjakan harga minyak mentah, penguatan ringgit, dan lonjakan produksi sawit Indonesia yang mengejutkan pasar.

Harga minyak sawit berjangka Malaysia memang hanya bergerak tipis, namun di balik stabilitas itu tersimpan tekanan sekaligus peluang. Pasar komoditas kini membaca setiap perubahan dengan hati-hati karena faktor energi dan pasokan global mulai kembali mendominasi.

Harga CPO Bergerak Tipis, Pasar Tertahan Dua Sentimen Besar

Kontrak acuan minyak sawit untuk pengiriman Juli di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun tipis 2 ringgit atau 0,04 persen menjadi 4.534 ringgit per metrik ton pada jeda perdagangan siang.

Gerak terbatas ini menunjukkan pasar belum menemukan arah kuat. Di satu sisi, harga minyak mentah yang menguat menopang prospek permintaan sawit untuk biodiesel. Namun di sisi lain, penguatan ringgit menahan laju kenaikan.

Analis StoneX yang berbasis di Singapura, Kang Wei Cheang, menilai pasar CPO saat ini terjebak di antara kekuatan pendukung dan penekan yang saling menahan.

Situasi itu membuat harga sawit cenderung konsolidasi meski volatilitas global belum mereda.

Harga Minyak Naik, Sentimen Biodiesel Dorong Optimisme

Salah satu faktor yang memberi penopang bagi harga CPO datang dari reli minyak mentah global.

Lonjakan harga minyak dipicu laporan bahwa Amerika Serikat akan melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, yang berpotensi mengganggu pasokan energi dari Timur Tengah.

Sentimen ini membuat minyak sawit kembali dilirik karena lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel.

Saat harga energi naik, prospek penggunaan CPO untuk kebutuhan energi alternatif ikut terdongkrak. Inilah yang membuat pasar melihat sawit masih memiliki bantalan di tengah tekanan lain.

Ringgit Menguat Jadi Rem Harga Sawit

Namun ruang penguatan harga belum terbuka lebar. Penguatan ringgit 0,03 persen terhadap dolar AS menjadi faktor yang membatasi reli.

Bagikan
Artikel Terkait
Market

Harga BBM 1 Mei 2026 Berpotensi Naik Lagi? Ini Sinyal Penyesuaian Tahap 2 dari Pemerintah

finnews.id – Menjelang 1 Mei 2026, isu kenaikan harga bahan bakar minyak...

ISAT mencetak laba bersih Rp1,49 triliun pada kuartal I-2026, ditopang pertumbuhan pendapatan dua digit dan penguatan aset perseroan.
Market

Laba ISAT Melonjak di Awal 2026, Indosat Panen Rp1,49 Triliun Saat Pendapatan Tembus Rp15,22 Triliun

finnews.id — PT Indosat Tbk (ISAT) membuka 2026 dengan kinerja yang mencuri...

IHSG rebound tipis ke 7.080 saat sentimen OpenAI, keluarnya UEA dari OPEC, dan lonjakan harga minyak mengguncang pasar Asia.
Market

IHSG Rebound di Tengah Guncangan OpenAI dan OPEC, Bursa Asia Campur Aduk Saat Harga Minyak Memanas

finnews.id — Pergerakan pasar siang ini penuh tensi. Indeks Harga Saham Gabungan...

Ilustrasi pergerakan IHSG - Image by Gemini -
Market

IHSG Rebound ke 7.100, Saham Teknologi Ngegas! Ada 3 Rekomendasi Cuan Saat Asing Masih Kabur

IHSG Bangkit di Awal Perdagangan, Level 7.100 Kembali Ditembus finnews.id – Indeks...