Home Market Reli Chip Meledak! Bursa Asia Cetak Rekor, AI Jadi Bahan Bakar Baru, Tapi Rupiah Masih Tertekan
Market

Reli Chip Meledak! Bursa Asia Cetak Rekor, AI Jadi Bahan Bakar Baru, Tapi Rupiah Masih Tertekan

Bagikan
Reli saham chip dan optimisme AI dorong Bursa Asia cetak rekor baru, tapi rupiah masih loyo di tengah derasnya arus risk-on pasar global.
Ilustrasi
Bagikan

Jika tercapai, itu akan menjadi performa bulanan terbaik sejak Juni 1999. Angka tersebut menegaskan rotasi dana global mulai deras mengalir kembali ke emerging market, terutama yang bertumpu pada sektor teknologi.

Kenaikan juga menyebar ke negara lain. Bursa Thailand melesat hingga 1,9% dan mencatat sesi terbaik sejak awal April. Bursa Malaysia naik 0,7%, sedangkan IHSG menguat 0,7%.

Kombinasi reli chip, ekspektasi kebijakan moneter yang stabil, dan optimisme pertumbuhan membuat investor cenderung mengabaikan sejumlah risiko eksternal.

Konflik AS-Iran Tak Guncang Minat Risiko

Biasanya tensi geopolitik bisa menekan sentimen. Namun kali ini pasar bergerak berbeda.

Laporan Axios yang menyebut Iran berniat mencapai kesepakatan membuka kembali Selat Hormuz lebih dulu dan menunda pembicaraan nuklir justru membantu menjaga sentimen positif.

Pasar membaca langkah itu sebagai sinyal risiko gangguan energi global masih terkendali. Akibatnya, minat terhadap aset berisiko tetap solid.

Meski ancaman inflasi dan potensi tekanan rantai pasok global masih membayangi, investor terlihat lebih fokus pada narasi pertumbuhan yang ditopang AI.

Mayoritas Mata Uang Asia Menguat, Rupiah Belum Lepas Tekanan

Di pasar valuta asing, sebagian besar mata uang Asia bergerak positif. Ringgit Malaysia naik 0,3% setelah tiga sesi tertekan. Dolar Singapura menguat 0,1%, sementara won Korea Selatan dan dolar Taiwan ikut mencatat apresiasi.

Namun rupiah belum menikmati euforia yang sama.

Mata uang Garuda justru melemah ke Rp17.230 per dolar AS, tidak jauh dari rekor terendah Rp17.320 yang tercapai pekan lalu. Secara year to date, rupiah masih tertekan 3,08%.

Kondisi ini menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang regional yang masih rentan, bahkan ketika pasar saham domestik ikut menguat.

Apakah Ini Awal Super Reli Bursa Asia?

Lonjakan indeks saham Taiwan, Korea Selatan, dan MSCI EM Asia membuka spekulasi baru bahwa pasar sedang memasuki fase super reli yang ditopang tema besar AI dan semikonduktor.

Jika momentum ini berlanjut, saham teknologi Asia bisa kembali menjadi tujuan utama dana global. Namun perhatian investor Indonesia kemungkinan masih terpecah antara peluang reli ekuitas dan tekanan rupiah.

Bagikan
Artikel Terkait
Market

Hadapi Ketidakpastian Ekonomi, CIMB Niaga Perkuat Ketahanan Lewat Stress Test

finnews.id – Industri perbankan nasional masih dibayangi ketidakpastian ekonomi global dan domestik....

PGAS catat laba kuartal I 2026 naik 46%, target harga saham dinaikkan ke Rp2.100 dan rekomendasi buy menguat di tengah spread gas tinggi.
Market

PGAS Bikin Kejutan! Laba Melonjak 46 Persen, Target Harga Naik ke Rp2.100, Sinyal Buy Menguat

Kondisi ini memperkuat narasi bahwa kinerja PGAS tidak hanya terdorong faktor sementara,...

Market

Rp2.500 Triliun Masih Menganggur! BI Bongkar Peluang Besar Kredit untuk Sektor Usaha

Temuan BI soal Rp2.500 triliun kredit menganggur menjadi alarm sekaligus peluang. Jika...

Ringkasan perdagangan 27 April 2026: IHSG melemah, asing net sell Rp2 triliun, namun sejumlah saham pilihan justru melesat tajam.
Market

Ringkasan Perdagangan 27 April 2026: IHSG Terkoreksi, Asing Lepas Rp2 Triliun Saat Saham Pilihan Masih Berpesta

BBCA memimpin daftar saham yang paling banyak dilepas asing dengan net sell...