Tekanan inflasi akibat lonjakan harga minyak mulai terasa pada harga impor Amerika Serikat. Presiden Federal Reserve Chicago, Austan Goolsbee, bahkan memperingatkan bahwa kenaikan harga energi ini bisa meningkatkan ekspektasi inflasi konsumen. Ditambah lagi dengan ketidakpastian politik di internal Federal Reserve setelah ancaman Trump terhadap Jerome Powell, pasar keuangan global kini benar-benar sedang berjalan di atas lapisan es yang tipis.
Respons Asia: Jepang Siapkan Dana Darurat USD10 Miliar
Negara-negara Asia, termasuk Jepang, mulai bergerak cepat untuk membentengi ekonomi mereka. Jepang berencana membentuk kerangka pembiayaan senilai USD10 miliar guna membantu negara-negara di kawasan Asia mengamankan pasokan energi dan memperkuat cadangan mereka. Langkah ini merupakan antisipasi terhadap gangguan rantai pasok global yang diprediksi akan membuat banyak negara mencari bantuan pinjaman baru ke IMF.
Di sisi lain, Rusia justru memanfaatkan situasi ini dengan menyatakan kesiapannya meningkatkan pasokan energi ke China. Dinamika ini menunjukkan bahwa peta kekuatan ekonomi dunia sedang bergeser seiring dengan krisis energi yang tak kunjung usai di Timur Tengah.
Stok Minyak AS Turun Tak Terduga
Secara fundamental, harga minyak mendapat dukungan dari data U.S. Energy Information Administration (EIA) yang menunjukkan penurunan stok minyak mentah Amerika sebesar 0,9 juta barel. Angka ini mengejutkan analis yang sebelumnya memperkirakan adanya kenaikan stok. Penurunan cadangan di tengah krisis distribusi global ini menjadi alasan kuat mengapa harga minyak sulit untuk turun lebih dalam. (*)