Ini sejalan dengan visi besar BBTN untuk meningkatkan porsi kredit non-perumahan hingga 30% pada tahun 2030 mendatang. Fokus pada segmen korporasi dan konsumer dengan imbal hasil tinggi di dalam ekosistem perumahan membuktikan bahwa BTN kini tidak hanya bergantung pada satu kaki bisnis saja. Diversifikasi ini membuat profil risiko perusahaan menjadi lebih seimbang dan menarik bagi investor jangka panjang.
Kualitas Aset Makin Kinclong, NPL dan LAR Kompak Turun
Seringkali pertumbuhan kredit yang cepat memicu kekhawatiran soal kualitas aset. Namun, BTN berhasil menepis ketakutan tersebut. Rasio kredit bermasalah (NPL) membaik ke level 3,1% dibandingkan tahun lalu yang sebesar 3,3%. Begitu juga dengan Loan at Risk (LAR) yang turun menjadi 19,6%.
Perbaikan ini terjadi berkat strategi “Loan Factory” dan sistem penagihan (collection) klaster regional yang jauh lebih efektif. Hebatnya lagi, BTN justru meningkatkan pencadangan (coverage) NPL hingga ke level 124%. Artinya, benteng pertahanan BTN terhadap risiko gagal bayar kini jauh lebih tebal dan aman daripada sebelumnya.
Valuasi Masih Murah: Waktu yang Tepat untuk “Buy”?
Dengan kinerja sekuat ini, saham BBTN saat ini masih diperdagangkan pada valuasi yang sangat atraktif, yakni di angka 0,5x Price to Book (P/B) untuk tahun 2026. Angka ini jauh di bawah rata-rata 10 tahunnya yang berada di level 0,8x. Begitu pula dengan Price to Earnings (P/E) yang hanya 4,6x dibandingkan rata-rata historis 6,7x.
Analis mempertahankan rekomendasi “Buy” untuk saham BBTN melihat prospek margin dan kualitas aset yang terus membaik. Jika Anda mencari saham perbankan dengan potensi upside besar dan fundamental yang sedang naik daun, BBTN adalah kandidat yang sulit untuk Anda abaikan di sisa tahun 2026 ini! (*)