Kondisi ini langsung menghantam dompet konsumen. Di Amerika Serikat, warga mulai membatasi penggunaan kendaraan karena harga bensin dan solar menyentuh level tertinggi sejak tahun 2022. Tak hanya itu, raksasa energi Arab Saudi pun dilaporkan akan memangkas ekspor minyak mentah ke China pada Mei mendatang. Uni Eropa juga mulai kelimpungan menghadapi tagihan bahan bakar fosil yang membengkak hingga 22 miliar euro sejak pecahnya konflik.
Harga Minyak Fisik Tembus Rekor Gila USD 150 per Barel
Meski harga minyak berjangka masih di bawah USD 100, pasar spot atau pasar tunai memberikan gambaran yang jauh lebih ngeri. Di Eropa, harga minyak fisik untuk pengiriman segera menyentuh rekor baru di kisaran USD 150 per barel. Ini mencerminkan betapa tipisnya stok minyak yang tersedia di pasar saat ini. Analis menilai, jika blokade Amerika Serikat ditegakkan secara penuh, harga di pasar berjangka akan segera mengejar harga pasar fisik yang sangat tinggi tersebut.
Donald Trump bahkan memperingatkan akan menghancurkan kapal cepat Iran yang berani mendekati blokade maritim Amerika. Di sisi lain, anggota NATO memilih untuk menjaga jarak dan menyatakan hanya akan turun tangan setelah konflik mereda. Situasi ini membuat ketegangan geopolitik semakin runyam bagi stabilitas ekonomi dunia.
OPEC dan IEA Pasang Kuda-Kuda Hadapi Krisis Energi
Merespons gejolak energi global ini, Organisasi Negara Eksportir Minyak (OPEC) sudah menurunkan proyeksi permintaan minyak dunia sebesar 500 ribu barel per hari untuk kuartal kedua. Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) membuka peluang untuk melepas cadangan minyak tambahan ke pasar demi menekan harga yang kian liar. Meskipun harapan deeskalasi masih ada melalui komunikasi yang terus berlanjut, pasar tetap berada dalam mode waspada penuh.
Bagi Anda para pelaku bisnis dan konsumen, saatnya melakukan efisiensi energi. Strategi penghematan bensin dan pencarian alternatif energi menjadi krusial di tengah ketidakpastian ini. Jangan sampai pengeluaran Anda jebol hanya karena terlambat mengantisipasi badai harga minyak yang sedang berlangsung di April 2026 ini. (*)