Di pasar saham, zona merah mendominasi layar perdagangan. Indeks saham Filipina anjlok hingga 2%, diikuti indeks Malaysia yang merosot 0,9%. Bahkan, KOSPI Korea Selatan yang biasanya menjadi primadona sektor kecerdasan buatan (AI) terperosok dalam hingga 2,2%. Sepertinya, euforia teknologi harus tunduk pada kenyataan pahit ancaman krisis energi global.

IHSG Jadi ‘Lilin di Tengah Kegelapan’ Berkat TPIA

Menariknya, di tengah keterpurukan bursa regional, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Jakarta justru tampil mengejutkan. IHSG menjadi satu-satunya pengecualian dengan mencatatkan kenaikan hampir 1% di tengah badai. Apa rahasianya? Ternyata performa gemilang ini didorong oleh lonjakan saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang meroket hingga 10,3%.

TPIA melaporkan laba bersih kuartalan yang memecahkan rekor sebesar USD 205 juta, memberikan angin segar bagi para pelaku pasar domestik. Kenaikan saham TPIA mampu menahan tekanan aksi jual yang terjadi di sektor lain, menjadikan bursa saham Indonesia sedikit lebih tangguh dibandingkan tetangga-tetangganya di Asia Tenggara yang mayoritas terkapar di zona merah.

Waspada! Risiko Sistemik Masih Mengintai hingga Akhir Kuartal

Meskipun IHSG mampu menguat, investor dilarang terlena. Risiko sistemik dari kenaikan harga minyak di atas USD 100 per barel tetap menjadi ancaman nyata bagi emiten yang memiliki beban operasional tinggi. Selama Selat Hormuz masih dalam ancaman blokade, volatilitas pasar akan tetap tinggi. Pastikan Anda terus memantau pergerakan harga komoditas dan kebijakan bank sentral global agar tidak terjebak dalam arus pelemahan aset yang lebih dalam. (*)