Ancaman Iran dan Respons Keras Trump
Sementara itu, Garda Revolusi Iran telah lebih dulu memberikan peringatan keras. Mereka mengklaim memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz dan siap menghadapi pihak mana pun yang mencoba menantang.
Dalam unggahannya, Trump menegaskan tujuan operasi tersebut.
“Mulai sekarang juga, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang Terbaik di Dunia, akan memulai proses MEMBLOKADE semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” kata Trump.
“Setiap warga Iran yang menembak ke arah kita, atau ke arah kapal-kapal damai, akan DIHANCURKAN!”
Dampak langsung dari eskalasi ini terlihat pada pasar energi global. Harga minyak yang sebelumnya sempat turun akibat gencatan senjata sementara, kini melonjak sekitar 8 persen. Kontrak utama WTI dan Brent bahkan menembus angka di atas 100 dolar AS per barel.
Iran Menolak Tekanan AS
Pemerintah Iran merespons dengan tegas. Ketua parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada tekanan Washington. Di waktu yang sama, Kepala Angkatan Laut Iran Shahram Irani menyebut ancaman blokade tersebut sebagai langkah yang “konyol”.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menyampaikan kekecewaannya atas kegagalan negosiasi. Ia menilai pendekatan AS yang berubah-ubah menjadi penghambat utama tercapainya kesepakatan. Menurutnya, kesepakatan sebenarnya “hanya beberapa inci lagi” untuk terwujud.
Di sisi lain, Trump justru menunjukkan sikap tidak terlalu peduli terhadap kelanjutan pembicaraan.
“Saya tidak peduli apakah mereka kembali atau tidak. Jika mereka tidak kembali, saya tidak masalah,” ujarnya kepada wartawan.
Selat Hormuz Jadi Titik Panas Dunia
Ketegangan semakin meningkat karena Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi minyak dan gas dunia. Iran sebelumnya telah membatasi lalu lintas di wilayah tersebut, meski tetap mengizinkan beberapa kapal dari negara sahabat seperti China.
Seorang analis dari Pusat Penelitian Internasional Sciences Po, Nicole Grajewski, menilai langkah AS bukan sekadar tekanan biasa. Ia menyebut blokade ini dapat dianggap sebagai tanda dimulainya kembali konflik secara efektif.
Situasi semakin kompleks setelah laporan menyebutkan adanya kapal tanker yang berbalik arah akibat ketegangan di wilayah tersebut. Selain itu, konflik yang melibatkan Iran, AS, dan Israel juga memperparah kondisi geopolitik kawasan.