Selain panas yang membara, sudut masuk ke atmosfer juga harus sangat presisi. Jika sudutnya terlalu dangkal, kapsul bisa memantul kembali ke luar angkasa seperti batu yang dilempar di atas air. Sebaliknya, jika sudutnya terlalu tajam, gaya gravitasi dan panas yang timbul akan terlalu besar untuk ditanggung oleh struktur pesawat maupun tubuh para astronot. Maka dari itu, manuver koreksi lintasan terakhir menjadi kunci hidup dan mati dalam misi Artemis II ini.
Persiapan Terakhir di Dalam Kabin: Kursi Disesuaikan, Peralatan Dirapikan
Lantas, apa yang dilakukan Reid Wiseman dan rekan-rekannya di dalam sana? Menjelang pendaratan, suasana di dalam kabin Orion dipastikan sangat sibuk namun tetap tenang. Para kru mulai merapikan segala peralatan agar tidak melayang dan membahayakan saat terjadi guncangan hebat (G-force) saat memasuki atmosfer.
Mereka juga menyesuaikan posisi kursi khusus untuk meredam benturan saat menyentuh permukaan air laut nanti. Selain itu, pemantauan cuaca di lokasi pendaratan Samudra Pasifik terus dilakukan secara intensif. Semua mata tertuju pada instrumen navigasi untuk memastikan jalur masuk tetap tepat pada jalurnya. Keberhasilan pendaratan “bullseye” ini akan menjadi fondasi bagi misi manusia mendarat di permukaan Bulan pada masa mendatang.
Fakta Penting Pendaratan Artemis II:
- Waktu Pendaratan: 11 April 2026, pukul 11.00 WIB.
- Lokasi: Samudra Pasifik, dekat San Diego, Amerika Serikat.
- Kecepatan Re-entry: Sekitar 38.400 km/jam.
- Suhu Maksimal: Mencapai 2.700 derajat Celcius.
- Kru Pesawat: Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen.
Masa Depan Eksplorasi Luar Angkasa
Detik-detik Kapsul Orion mendarat di Bumi bukan sekadar akhir dari sebuah misi, melainkan awal dari era baru. Keberhasilan empat astronot ini akan membuktikan bahwa teknologi perisai panas dan sistem navigasi Orion sudah siap membawa manusia melangkah lebih jauh, bahkan hingga ke Mars. Kita semua berharap pendaratan di Samudra Pasifik berjalan mulus tanpa kendala berarti. (*)