Harapan Redakan Konflik di Selat Taiwan

Dalam pertemuan dengan Xi Jinping, Cheng Li-wun menyampaikan harapan agar Selat Taiwan tidak lagi menjadi titik konflik.

Cheng mengatakan kepada Xi bahwa ia berharap Selat Taiwan “tidak lagi menjadi titik fokus potensi konflik”.

Ia juga mendorong kedua pihak untuk mencari jalan damai dan menghindari perang.

“Kedua belah pihak harus melampaui konfrontasi politik … dan mencari solusi sistemik untuk mencegah dan menghindari perang, sehingga Selat Taiwan dapat menjadi model penyelesaian konflik secara damai di dunia,” katanya.

Ketegangan Militer dan Isu Pertahanan Taiwan

Di sisi lain, ketegangan di kawasan Selat Taiwan terus meningkat. Beijing rutin mengerahkan jet tempur dan kapal perang di sekitar wilayah tersebut, bahkan melakukan latihan militer skala besar dalam beberapa tahun terakhir.

Situasi ini ikut memicu perdebatan di parlemen Taiwan terkait anggaran pertahanan sebesar NT$1,25 triliun (US$39 miliar) yang hingga kini masih tertunda. Parlemen yang dipimpin KMT menjadi salah satu faktor mandeknya pembahasan tersebut.

Amerika Serikat juga ikut menekan anggota parlemen oposisi Taiwan agar mendukung pembelian senjata, termasuk dari AS, guna menghadapi potensi ancaman dari Tiongkok.

Namun, Cheng menolak rencana anggaran pemerintah tersebut. Ia menyebut “Taiwan bukanlah ATM” dan menawarkan alternatif anggaran KMT sebesar NT$380 miliar (US$12 miliar) untuk pembelian senjata AS, dengan opsi tambahan akuisisi di masa depan.

Perjalanan Cheng dan Respons Politik Taiwan

Kunjungan Cheng tidak berhenti di Beijing saja. Ia juga melawat ke Shanghai sejak Selasa malam dan kemudian ke Nanjing. Di sana, ia mengunjungi makam Sun Yat-sen, tokoh revolusioner yang dihormati baik di Beijing maupun Taipei.

Sebelum pertemuan dengan Xi, Cheng menegaskan bahwa perang bukanlah takdir bagi kedua sisi Selat Taiwan.

Cheng mendarat di Shanghai pada Selasa malam, dan mengatakan tak lama setelah kedatangannya bahwa “kedua sisi Selat Taiwan tidak ditakdirkan untuk berperang, seperti yang dikhawatirkan oleh komunitas internasional”.