Jaenul mengakui bahwa tindakannya tersebut melampaui kewenangannya sebagai supervisor. Ia berdalih bahwa ucapan kasar dan pemecatan sepihak itu muncul karena emosi sesaat, bukan merupakan kebijakan resmi dari manajemen perusahaan.
“Tindakan tersebut murni karena emosi sesaat dan bukan keputusan resmi perusahaan untuk mengeluarkan karyawan DF,” tutupnya.
Hingga kini, kasus tersebut masih menjadi perbincangan hangat. Publik mendesak pihak manajemen pusat untuk memberikan sanksi tegas agar kejadian serupa tidak terulang kembali kepada pekerja lainnya.(*).