Sesuai aturan ketat rumah sakit, membawa telepon seluler ke dalam ruang operasi sebenarnya dilarang keras demi menjaga kesterilan dan fokus tindakan medis. Himawan menyebutkan bahwa pelaku tidak menggubris aturan tersebut hingga akhirnya video dirinya berjoget saat dokter menangani pasien menjadi konsumsi publik di media sosial.
Direktur RSUD Datu Beru Minta Maaf: Tidak Ada Toleransi!
Meskipun aksi joget spontan tersebut dilakukan di area belakang ruang operasi dan diklaim tidak mengganggu konsentrasi dokter bedah, pihak rumah sakit tetap memandang hal ini sebagai pelanggaran berat terhadap etika profesi. Direktur RSUD Datu Beru, dr. Gusnarwin, menegaskan bahwa pihaknya tidak memberikan toleransi sedikit pun bagi tindakan yang mencederai integritas rumah sakit.
“Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Kami juga berkomitmen menjaga profesionalitas serta kepercayaan masyarakat,” ungkap dr. Gusnarwin. Beliau memastikan bahwa meski ada insiden tersebut, keselamatan pasien tetap terjaga dan proses bedah berjalan sesuai prosedur medis yang berlaku.
Pelaku sendiri kabarnya sudah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas tindakan spontan yang dilakukannya. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Sanksi administratif dan sosial kini harus ia tanggung akibat ulahnya yang dianggap tidak beretika di tempat yang seharusnya sakral bagi keselamatan manusia.
Kasus ini menjadi pengingat keras bagi seluruh tenaga medis bahwa profesionalitas dan etika harus tetap dijunjung tinggi, terlepas dari godaan konten media sosial. Ruang operasi adalah tempat untuk menyelamatkan nyawa, bukan tempat untuk mencari viralitas sesaat yang justru bisa menghancurkan karier yang telah dibangun dengan susah payah. (*)