finnews.id – Dunia sedang berada di ambang perubahan geopolitik besar yang bisa mengubah peta kekuatan global selamanya. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, baru saja melontarkan pernyataan yang sangat mengejutkan dan bikin heboh para diplomat dunia. Di tengah ketidakpastian kebijakan Washington, Macron secara terbuka mengajak deretan negara raksasa untuk berani mengambil langkah mandiri dan lepas dari ketergantungan terhadap Amerika Serikat (AS).
Langkah berani ini Macron sampaikan saat bertemu dengan para mahasiswa di Universitas Yonsei, Seoul, Korea Selatan pada Jumat (3/4/2026). Macron tidak lagi bicara soal kemitraan tradisional, melainkan sebuah “Jalan Ketiga” yang independen. Jika agenda ini benar-benar berjalan, dominasi AS yang selama ini menjadi tulang punggung keamanan dan ekonomi dunia bisa goyah seketika.
Macron Galang Kekuatan: Dari Korea Selatan Hingga Brasil
Tidak tanggung-tanggung, Macron menyebutkan daftar negara yang ia harapkan bisa bersatu melawan arus ketergantungan terhadap Washington. Kelompok ini mencakup negara-negara Eropa, Korea Selatan, Jepang, Brasil, Australia, Kanada, hingga India. Macron percaya bahwa gabungan kekuatan negara-negara ini mampu menciptakan poros baru yang tidak perlu lagi mendiktekan kebijakan mereka berdasarkan keinginan Gedung Putih.
“Dengan agenda seperti itu, yang dianut oleh Korea Selatan, Prancis, dan negara-negara Eropa lainnya, Kanada, Jepang, India, Brasil, Australia, kita mulai memiliki semacam jalan ketiga (yang independen dari AS),” tegas Macron di hadapan para mahasiswa. Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa Prancis ingin memimpin poros alternatif di tengah dinamika dunia yang kian tidak menentu.
Peringatan Macron: Ketergantungan pada AS Adalah Bahaya
Mengapa Macron begitu ngotot ingin lepas dari AS? Jawabannya sederhana: inkonsistensi. Presiden Prancis ini mengingatkan bahwa negara-negara yang terlalu menyandarkan nasibnya pada Washington akan menderita di kemudian hari. Ia menyoroti bagaimana kebijakan AS yang sering berubah-ubah bisa menjadi bumerang bagi negara-negara sekutu yang hanya menjadi pengikut setia.
Menurut Macron, kemandirian strategis bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan untuk bertahan hidup dalam tatanan dunia baru. Ia melihat bahwa ketergantungan yang terlalu dalam pada AS hanya akan membuat negara-negara lain terseret dalam konflik atau kebijakan ekonomi yang merugikan kepentingan nasional mereka sendiri.
NATO Terancam Bubar? Ancaman Donald Trump Bikin Eropa Panik
Isu kemandirian ini mencuat bukan tanpa alasan. Ketegangan antara Eropa dan AS mencapai titik didih menyusul pernyataan Presiden AS, Donald Trump. Dalam sebuah wawancara dengan The Telegraph pada 1 April, Trump menyatakan bahwa ia serius mempertimbangkan untuk menarik AS keluar dari NATO (Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara). Ancaman ini muncul setelah aliansi tersebut menolak membantu operasi militer AS terhadap Iran.
Situasi ini membuat para pemimpin Eropa mulai merasa bahwa NATO kini dalam kondisi ‘lumpuh’ dan mulai terpecah. Para pejabat Eropa, sebagaimana dilaporkan oleh Politico, mulai membahas secara tertutup cara merespons kemungkinan terburuk jika Trump benar-benar merealisasikan ancamannya untuk keluar dari aliansi pertahanan terbesar di dunia tersebut.
Eropa Mulai Jaga Jarak dari Operasi Militer Washington
Laporan dari Bloomberg juga mengindikasikan adanya pergeseran sikap yang signifikan. Para pemimpin Eropa kini berusaha menjauhkan diri dari pengaruh militer AS, terutama terkait ketegangan di Timur Tengah. Penolakan Eropa untuk terlibat dalam konflik AS-Iran menjadi bukti nyata bahwa kesetiaan buta terhadap Washington sudah mulai pudar.
Dunia kini menunggu, apakah ajakan Macron untuk membangun “Jalan Ketiga” ini akan disambut oleh negara-negara raksasa lainnya. Jika koalisi ini terbentuk, kita mungkin akan melihat berakhirnya era unipolar dan dimulainya babak baru kemandirian global yang dipelopori oleh poros Eropa dan Asia-Pasifik. – Sputnik/ANTARA –