Keberhasilan menjatuhkan pesawat tempur utama ini menjadi sinyal bahwa sistem pertahanan udara Iran sangat siap menghadapi keunggulan teknologi udara lawan. Jatuhnya pesawat di area Pulau Qeshm menambah daftar kerugian aset militer AS-Israel dalam drama konflik yang kian membara ini.
Dendam Membara: Buntut Gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran
Serangan masif Iran ini bukan tanpa alasan kuat. Teheran tengah diliputi amarah besar setelah operasi militer gabungan AS dan Israel pada 28 Februari lalu membawa dampak yang sangat destruktif bagi kedaulatan mereka. Hari pertama serbuan tersebut mengakibatkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, beserta sejumlah petinggi militer Iran gugur.
Kematian sang pemimpin tertinggi menjadi duka nasional sekaligus pemantik semangat balas dendam bagi militer Iran. Apalagi, serangan rudal lawan juga menghancurkan sebuah sekolah perempuan di Iran selatan hingga porak-poranda. Tragedi kemanusiaan ini semakin memperkeruh suasana di lapangan.
Korban Jiwa Tembus 1.200 Orang, Krisis Kemanusiaan Mengintai
Data terbaru yang dirilis pemerintah Iran menunjukkan angka yang sangat mengerikan. Iran memperkirakan jumlah korban tewas akibat rangkaian serangan udara AS dan Israel telah mencapai lebih dari 1.200 orang. Angka ini mencakup personel militer maupun warga sipil yang terjebak dalam zona konflik.
Kini, dengan serangan balasan ke USS Abraham Lincoln dan pangkalan di UEA, dunia menunggu bagaimana reaksi Washington dan Tel Aviv. Apakah mereka akan melakukan deeskalasi atau justru meluncurkan serangan yang jauh lebih besar? Satu yang pasti, Timur Tengah kini menjadi “kotak korek api” yang siap meledakkan stabilitas energi dan ekonomi dunia kapan saja. – Sputnik/ANTARA –