finnews.id – Pemadaman internet yang diberlakukan pemerintah Iran telah berlangsung selama 240 jam. Kondisi ini adalah salah satu “pemadaman internet nasional yang diberlakukan pemerintah paling parah dalam sejarah global,” menurut kelompok pemantau internet NetBlocks.
Organisasi tersebut juga mencatat bahwa gangguan ini adalah “pemadaman terlama kedua yang tercatat di Iran setelah protes Januari. Dengan demikian, Iran secara efektif menghabiskan sepertiga tahun 2026 dalam keadaan offline.
Ketegangan meningkat setelah Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang dilaporkan menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Iran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan beberapa negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Iran juga secara efektif menutup Selat Hormuz sekitar 1 Maret. Jalur air strategis ini biasanya menangani sekitar 20 juta barel pengiriman minyak setiap hari dan sekitar 20% dari perdagangan gas alam cair global.
Israel Mengaku Tak Ingin Perang Tanpa Akhir dengan Iran
Sementara itu, Israel mengaku tidak menginginkan perang tanpa akhir dengan Iran dan akan berkoordinasi dengan Amerika Serikat mengenai kapan pertempuran akan berakhir.
Hal itu diungkapkan Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, Selasa, 10 Maret 2026. Ia juga menolak untuk secara terbuka menyatakan jangka waktu kapan konflik tersebut dapat berakhir.
Perang AS-Israel dengan Iran, yang kini memasuki hari ke-11, telah melanda Timur Tengah, dengan serangan Iran menghantam negara-negara tetangga dan Israel memerangi Hizbullah di Lebanon serta menyerang Iran.
“Kami akan melanjutkan hingga saat kami dan mitra kami menganggap bahwa sudah tepat untuk berhenti,” kata Saar kepada wartawan di Yerusalem bersama dengan Menteri Luar Negeri Jerman.
“Kami tidak menginginkan perang tanpa akhir,” katanya.