Home Lifestyle Indonesia Krisis Kelahiran, Cermin Kesadaran Pribadi
Lifestyle

Indonesia Krisis Kelahiran, Cermin Kesadaran Pribadi

angka kelahiran turun

Bagikan
Penurunan Angka Kelahiran
Bagikan

finnews.id – Menurut penelitian terakhir, Indonesia mengalami penurunan dalam angka kelahiran.

Turunnya angka kelahiran total atau total fertility rate (TFR) di Indonesia kembali menjadi perbincangan hangat di ruang publik.

Isu fertilitas itu ramai dibicarakan di platform X, @tan*******, Rabu (25/2/2026).

Dalam unggahannya, ia menyertakan gambar yang menunjukkan tren penurunan TFR di Indonesia dari tahun ke tahun.

“Syukurlah penduduk Indonesia makin sadar punya anak gak sekedar sebagai penerus keturunan aja tapi ada tanggungjawab besar terhadap anak yg dilahirkan. Kasihan anak terlahir dari keluarga kismin yang hidupnya gak sejahtera yg terus-menerus bergelut dengan keadaan,” tulisnya.

Cuitan tersebut lantas menuai respons luas.

Hingga Jumat (27/2/2026) siang, unggahan itu mendapatkan lebih dari 5.000 like dan sekitar 700 kali dibagikan ulang.

Ratusan balasan juga memenuhi cuitan itu, mereka melontarkan berbagai sudut pandang soal penurunan angka kelahiran.

Menurut Data penurunan lima dekade terakhir Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diperbaharui pada 31 Maret 2023 mencatat, angka TFR menurut provinsi pada tahun 1971-2020 mengalami penurunan.

Penurunan terjadi signifikan dalam rentang hampir lima dekade terakhir.

  • Berdasarkan hasil Sensus Penduduk (SP) 1971, angka TFR Indonesia masih berada di level 5,61.
  • Angka tersebut kemudian turun pada SP 1980 dengan level 4,68, SP 1990 dengan level 3,33, berlanjut pada SP 2000 dengan level 2,34.
  • Di periode 2010, angka TFP sempat naik tipis menjadi 2,41.
  • Namun, pada 2020 angka TFP kembali menyusut hingga 2,18 lewat data SP dan Long Form (LF).
    Sementara data 2025 dan 2026 belum bisa ditemukan.

Lantas, apa faktor yang membuat angka fertilitas ini terus merosot turun dari tahun ke tahun?

  • Psikolog: kondisi psikologis kolektif
    Menurut Psikolog Danti Wulan, fenomena penurunan angka kelahiran atau TFR di Indonesia bukan sekadar urusan angka statistik atau kebijakan pemerintah, melainkan cerminan dari pergeseran kondisi psikologis kolektif masyarakatnya. Danti menganalisa sejumlah faktor psikologis yang melatarbelakangi tren tersebut:
    1.Pergeseran prioritas: self-actualization di atas tradisi Zaman dahulu, Danti menerangkan memiliki anak sering dianggap sebagai pencapaian hidup yang utama atau bahkan “kewajiban” sosial. Hal tersebut kontras dengan pandangan masyarakat era kini.
    “Saat ini, banyak individu yang lebih fokus pada aktualisasi diri,” jelas Danti kepada Kompas.com, Jumat (27/2/2026). Ada pula faktor psikologi individu, di mana terdapat kebutuhan yang lebih besar untuk mengejar karier, pendidikan, dan hobi.
    Otonomi diri juga menjadi faktor pergeseran prioritas masyarakat sekarang. “Munculnya kesadaran bahwa kebahagiaan pribadi tidak harus selalu melalui jalur domestik konvensional,” katanya.
    2.Intensive parenting dan ketakutan akan kegagalan
    Danti menjelaskan, orang tua masa kini cenderung mengarah pada intensive parenting atau pola asuh yang sangat terfokus pada anak. “Ada pergeseran standar dari asal anak makan menjadi anak harus optimal,” katanya.
    Dalam konteks ini, Danti membeberkan pula adanya beban kognitif yang menyelimuti orang tua zaman kini. Di mana, calon orang tua merasa harus menjamin gizi terbaik, pendidikan terbaik, hingga kesehatan mental anak.
    “Anxiety atau kecemasan, jika mereka merasa tidak mampu memberikan standar ideal tersebut, mereka memilih untuk menunda atau tidak memiliki anak sama sekali karena takut gagal menjadi orang tua yang baik,” paparnya. Faktor-faktor psikologis itulah yang bisa jadi mempengaruhi mindset orang tua zaman sekarang untuk tidak memiliki anak terlebih dahulu.
    3.Tekanan psikologis sandwich generation Istilah sandwich generation sudah banyak dipahami oleh masyarakat sekarang.
    Sandwich generation dikenal sebagai orang yang punya tanggungan generasi di atasnya (seperti orang tua) dan generasi di bawahnya (dirinya dan tanggungan lain).
    “Banyak usia produktif di Indonesia saat ini terjepit di tengah, harus menghidupi orang tua sekaligus diri sendiri,” sebutnya. Burnout finansial dan mental mungkin membuat seseorang untuk menunda atau memilih tidak mempunyai anak. “Secara psikologis, kapasitas mereka untuk memberikan perhatian dan kasih sayang (emotional labor) sudah terkuras untuk merawat generasi di atas mereka. Menambah anak dirasa sebagai beban mental yang melampaui batas kapasitas mereka,” terangnya.
    4.Perubahan persepsi tentang anak dari aset ke tanggung jawab
    Secara psikososial, Danti memaparkan bahwa persepsi terhadap anak sekarang telah berubah. Dahulu, pasti sering terdengar anggapan bahwa anak merupakan investasi hari tua dan “banyak anak, banyak rejeki”.
    “Sekarang anak dipandang sebagai tanggung jawab moral dan finansial yang sangat besar,” ucapnya. Kesadaran akan hak-hak anak tersebut, lanjut Danti, membuat calon orang tua berpikir ribuan kali sebelum berkomitmen untuk merencanakan kelahiran buah hati ke dunia.
    5.Eco-anxiety dan ketidakpastian masa depan
    Di pandangan Danti, orang tua sekarang memiliki kecemasan terhadap berbagai gejolak kondisi dunia.
    Mulai dari perubahan iklim, ketidakstabilan ekonomi global, hingga persaingan lapangan kerja yang makin ketat.”Hal tersebut menciptakan rasa pesimisme (orang tua),” ucapnya. Belum lagi ditambah adanya existensial dread. Orang tua bertanya-tanya, “apakah etis membawa anak ke dunia yang sedang tidak baik-baik saja ini?”. “Rasa bersalah proaktif ini menjadi penghambat psikologis yang signifikan,” lanjutnya.
    6.Munculnya normalisasi childfree
    Beberapa individu atau pasangan sekarang mulai menormalisasi childfree, di mana mereka memutuskan untuk tidak memiliki anak sepanjang hidup mereka.
    “Meskipun masih kontroversial di Indonesia, narasi mengenai childfree (pilihan untuk tidak memiliki anak) sudah mulai masuk ke ruang publik,” tuturnya.
    Hal itulah yang mungkin mendorong turunnya angka fertilitas di Indonesia. Ditambah lagi dengan validasi sosial.
    “Ketika seseorang melihat orang lain bisa bahagia tanpa anak, hal itu memberikan “izin psikologis” bagi mereka yang selama ini ragu namun merasa tertekan oleh norma sosial,” ulas Danti.

Bagikan
Artikel Terkait
LifestyleNews

Gubernur Kalimantan Timur ‘Disemprot’ Mendagri gara-gara Anggaran Mobil Dinas

finnews.id – Gubernur Kalimantan Timur diterpa kabar tak sedap. Tak hanya itu,...

Lifestyle

Napak Tilas dan Arsip Horor Pembantaian Rumah Pondok Indah

finnews.id – Rumah Pondok Indah pada tahun 90-an, sering diceritakan dari mulut...

Lifestyle

RedDoorz Pacu Pertumbuhan di Indonesia dengan Tambahan 100 Hotel Dikelola Langsung dan Optimalkan AI

finnews.id – RedDoorz, platform teknologi perhotelan dan akomodasi multi-brand terbesar di Asia...

Lifestyle

Pekanbaru Peduli Hewan Peliharaan dengan Membuka Pet Hotel

finnews.id – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Provinsi Riau melalui UPT...