Saya belum pernah mendengar ada buku berbahasa Inggris yang ditulis dengan model seperti itu. Apalagi yang dalam bahasa Indonesia.
Tapi saya pernah mendengar ada cara serupa yang ditulis dalam bahasa Mandarin. Saya belum melihatnya sendiri. Tapi ada. Kalau itu benar berarti betapa kaya kata-kata dalam bahasa Arab dan bahasa Mandarin.
Waktu habis. Harus ke bandara. Tentu mampir lagi ke resto kambing bakar. Tidak hanya daging kambing yang disajikan. Juga daging onta. Bahkan ada onta yang masih diikat di depan resto. Siap disembelih.
Di situ saya baru tahu bagaimana cara mengikat onta. Bukan diikat di lehernya. Onta itu diikat di salah satu kaki belakangnya.
Penyembelihan onta itu ternyata dilakukan ketika saya sedang makan. Tidak sempat melihatnya. Tahu-tahu ada kepala onta yang dibawa masuk ke resto. Ditaruh di dekat dapur.
Saya terbelalak melihat kepala onta terpenggal itu. Saya foto. Tentu saya tidak bisa menunggu masakan kepala onta itu. Saya harus bergegas ke bandara.
Sampai di bandara, ternyata bandara masih tutup. Petugas pos keamanan memberi tahu: pesawat hari itu delay sampai jam 6 sore.
Balik ke Tarim. Masih bisa satu kambing bakar lagi –tapi masakan kepala ontanya sudah termakan orang lain semua. (Dahlan Iskan)