Ternyata di forum malam itu banyak mahasiswa yang ikut bicara. Cukup blak-blakan. Berbeda dengan tipikal santri yang tidak berani bertanya.
Pagi sebelum meninggalkan Tarim saya masih berkunjung ke salah satu universitas di sana: Al-Ahgaff University. Hanya satu fakultas, syariah dan hukum kanun. Begitu banyak saya bertemu mahasiswa Indonesia di situ –ternyata 80 persen mahasiswanya dari Indonesia. Selebihnya dari Malaysia, Thailand, dan Brunei. Mahasiswa lokal hanya sekitar 150 orang.
Lalu saya sempatkan ke makam Ba’alawi (Sadaat Ba’alawi). Banyak yang ziarah. Hanya nisan-nisan makam ulama penting yang terlihat ditaruhi bunga di atasnya. Bunga kering. Dionggokkan bersama rantingnya yang juga kering. Itulah bunga raihan. Daunnya pun harum. Jenis bunga yang disebut dalam Quran: surah Ar-Rahman ayat 12.
Sebentar saja saya di makam itu. Lalu ke perpustakaan manuskrip yang kaya buku lama di Tarim. Saya kecantol agak lama di perpustakaan. Ini kali pertama saya melihat buku karya ilmuwan kuno Ibnu Sina di bidang kedokteran.
Ada juga buku unik: kalau kalimat-kalimatnya dibaca dari kanan semua mengandung pelajaran tentang kebaikan. Tapi kalau kalimat yang sama dibaca dari kiri semua bercerita tentang keburukan sifat manusia.
Penulisnya itu pasti sastrawan-ilmuwan yang luar biasa. Seluruh halaman buku bisa dibaca seperti itu.
Itu belum seberapa. Masih ada yang lebih hebat. Buku itu bisa dibaca dari atas ke bawah. Semua kata pertama di setiap kalimat bisa dibaca dari atas ke bawah. Membentuk kalimat sendiri. Dengan makna tersendiri. Yang isinya tentang cabang ilmu yang lain lagi.
Bukan hanya kata pertama. Pun kata-kata berikutnya. Bisa dibaca ke bawah. Menjadi satu kalimat tersendiri. Isinya tentang ilmu yang lain lagi.
Dengan demikian membaca satu buku ini sama dengan membaca enam buku yang berbeda cabang ilmunya. Tinggal mau membaca kalimatnya dari arah mana.
Kalau ingin tahu ilmu kebaikan Anda membaca buku itu dari kanan. Kalau ingin ilmu tata bahasa Anda baca huruf keempatnya ke bawah.