finnews.id – Bagi sebagian orang, ulang tahun adalah momen yang dinanti—penuh ucapan selamat, kue, dan perayaan. Namun, tidak sedikit pula individu yang justru merasa tidak nyaman, enggan merayakan, bahkan secara terang-terangan tidak menyukai hari ulang tahunnya sendiri. Sikap ini kerap dianggap aneh atau terlalu serius, padahal dari sudut pandang psikologi, hal tersebut berkaitan erat dengan kepribadian dan pengalaman hidup seseorang.
Salah satu ciri umum orang yang tidak suka ulang tahun adalah kecenderungan introvert dan reflektif. Mereka lebih menikmati waktu tenang untuk merenung daripada menjadi pusat perhatian. Ulang tahun sering dipersepsikan sebagai ajang sorotan sosial yang “memaksa” seseorang untuk tampil, menerima ucapan, dan berinteraksi secara intens—sesuatu yang melelahkan bagi pribadi introvert.
Selain itu, ada pula faktor sensitivitas terhadap usia dan waktu. Bagi sebagian orang, ulang tahun bukan simbol perayaan, melainkan pengingat bahwa waktu terus berjalan. Mereka cenderung memiliki kesadaran eksistensial yang tinggi—memikirkan pencapaian hidup, kegagalan, dan harapan yang belum terwujud. Alih-alih bersenang-senang, mereka justru tenggelam dalam evaluasi diri yang mendalam.
Orang yang tak menyukai ulang tahun juga sering memiliki kepribadian mandiri dan tidak bergantung pada validasi sosial. Mereka tidak merasa perlu dirayakan atau diberi ucapan untuk merasa berharga. Nilai diri mereka dibangun dari prinsip, kerja keras, dan makna personal, bukan dari perhatian sesaat yang datang setahun sekali.
Dalam beberapa kasus, ketidaksukaan terhadap ulang tahun berakar pada pengalaman masa lalu. Ulang tahun yang pernah dilewati dalam kesepian, konflik keluarga, atau kekecewaan mendalam dapat meninggalkan asosiasi emosional negatif. Akibatnya, hari tersebut tidak lagi dipandang sebagai momen bahagia, melainkan sesuatu yang ingin dilewati begitu saja.
Menariknya, orang-orang ini sering menunjukkan empati tinggi terhadap orang lain, namun kurang nyaman ketika empati itu diarahkan kepada dirinya sendiri. Mereka lebih suka memberi daripada menerima, lebih nyaman menjadi pengamat daripada tokoh utama.