Lalu apalah artinya Iran: apalagi setelah nuklirnya dilumpuhkan Amerika dalam satu serangan senyap tengah malam. Presiden Donald Trump sendiri yang mengatakan Iran pun akan di-Venezuela-kan.
“Iran bukan Venezuela,” ujar Dr Muhsin Labib. “Harusnya, dua tahun diblokade Iran sudah selesai. Nyatanya sudah puluhan tahun diisolasi masih bisa melawan,” tambahnya.
Saat saya hubungi kemarin sore, Muhsin sedang long weekend di Pandaan, Jatim. Rumahnya memang di Pandaan. Di Jakarta ia mengajar. Dulu ia mengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Kini Muhsin hanya mengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Filsafat Sadra. Mengajar Filsafat.
Dr Muhsin Labib memang seorang doktor ilmu filsafat. S-3 nya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Disertasinya membahas soal pemikiran filsafat Muhammad Taqi Misbah Yazdi.
Anda sudah tahu siapa Misbah Yazdi: pemikir syiah modern. Baru meninggal tahun 2021. Ia ahli fikih, filsafat, dan seorang ayatullah. Dalam hal keilmuan ia penerus tokoh filsafat di sana: Mulla Sadra (Meninggal tahun 1600-an di Basra).
Sadra salah satu pemikir terbesar Islam pada zamanmya. Ia ahli tafsir Quran dan filsafat. Kitab filsafatnya menjadi kajian di seluruh dunia: Hikmah al-Muta‘aliyah. Sadra menggabungkan filsafat rasional dengan mistisisme dan ajaran Islam.
Nama besar Sadra dipakai untuk memberi nama PTIF Sadra di Jakarta. Itulah perguruan tinggi yang dibiayai pemerintah Iran. Di mana-mana. Di banyak negara. Saya pernah berkunjung yang di Inggris. Tidak jauh dari Oxford University.
Muhsin sendiri orang Jember. Ia keturunan Arab yang sudah tercampur dengan Madura. Apalagi istrinya –yang lahir di Pasuruan.
Muhsin menempuh SMA di pondok YAPI Bangil. Dekat Pasuruan. Pondok itu dikenal sebagai pondok syiah. Dari YAPI, Muhsin ke Iran. Kuliah di Qom, ”Makkahnya syiah. Di sana ia sampai memperoleh gelar master filsafat.
“Anda ketua syiah Indonesia?”
“Tidak ada istilah itu di syiah di Indonesia,” jawabnya.
“Apa posisi Anda di syiah?”
“Saya tokoh saja,” katanya.
“Tokoh nomor 1?”