finnews.id – Meta Platforms Inc., perusahaan teknologi raksasa di balik Facebook dan headset Oculus/Meta Quest, secara resmi menutup tiga studio pengembangan virtual reality (VR) pada 13 Januari 2026. Langkah ini terjadi bersamaan dengan pemutusan hubungan kerja (PHK) puluhan hingga ratusan karyawan di divisi Reality Labs, yang fokus utamanya adalah teknologi VR dan AR (augmented reality).
Studio yang Ditutup
Tiga studio yang dihentikan operasionalnya adalah:
- Twisted Pixel Games – dikenal sebagai pengembang Marvel’s Deadpool VR.
- Sanzaru Games – pembuat seri Asgard’s Wrath.
- Armature Studio – studio di balik Resident Evil 4 VR.
Ketiga studio ini sebelumnya diakuisisi oleh Meta dalam beberapa tahun terakhir sebagai bagian dari strategi memperkuat konten eksklusif untuk platform VR mereka.
Karyawan Twisted Pixel, pengembang gim “Marvel’s Deadpool VR”, yang dirilis pada November tahun lalu, serta Sanzaru, yang dikenal dengan gim “Asgard’s Wrath”, mengumumkan penutupan studio mereka di platform media sosial.
Armature, studio yang mengembangkan “Resident Evil 4” ke headset Quest pada 2021, juga ditutup.
Sementara itu, Supernatural mengonfirmasi penghentian pengembangan aplikasi kebugaran VR melalui unggahan di Facebook.
“Karena perubahan organisasi terbaru di studio kami, Supernatural tidak lagi menerima konten atau pembaruan fitur baru mulai hari ini,” demikian pemberitahuan Supernatural.
Namun, aplikasi kebugaran VR Supernatural akan tetap aktif bagi pengguna yang sudah ada.
Juru bicara Meta membenarkan penutupan studio VR, menyebut langkah itu sejalan dengan perubahan prioritas perusahaan.
“Kami mengatakan bulan lalu bahwa kami mengalihkan sebagian investasi kami dari Metaverse ke Wearables,” kata juru bicara tersebut dalam sebuah pernyataan kepada Engadget.
“Ini adalah bagian dari upaya tersebut, dan kami akan menginvestasikan kembali penghematan itu untuk mendukung pertumbuhan wearable tahun ini,” katanya.
Langkah ini memunculkan pertanyaan mengenai komitmen Meta terhadap ekosistem VR yang selama ini menjadi salah satu fokus investasi besarnya.
Meta belum mengumumkan headset VR baru sejak peluncuran Quest 3S pada 2024, dan bulan lalu juga menunda pengembangan headset berbasis Horizon OS bersama Asus dan Lenovo.
Meski demikian, Meta tidak akan sepenuhnya meninggalkan industri gim.
“Perubahan ini tidak berarti kami menjauh dari video gim. Kami mengalihkan investasi untuk fokus pada pengembang dan mitra pihak ketiga demi keberlanjutan jangka panjang,” kata Direktur Oculus Studios Tamara Sciamanna dalam memo internal.
Selain menutup tiga studio VR, Meta mulai memberhentikan lebih dari 1.000 karyawan di divisi Reality Labs, unit yang selama ini menangani pengembangan produk metaverse dan VR.
Dalam memo internal kepada karyawan, Chief Technology Officer Meta Andrew Bosworth menyatakan perusahaan akan memfokuskan kembali usaha pengembangan ke perangkat wearable, seperti kacamata pintar berbasis AI Ray-Ban.
Reality Labs tercatat telah merugi lebih dari 70 miliar dolar AS sejak 2021. Meski Meta dinilai berhasil menghadirkan sejumlah produk VR dan kacamata pintar yang diterima pasar, unit tersebut belum mampu menghasilkan keuntungan yang sepadan dengan biaya investasinya.
“Dengan basis pengguna yang lebih besar dan tingkat pertumbuhan tercepat saat ini, kami mengalihkan tim dan sumber daya hampir sepenuhnya ke mobile untuk mempercepat adopsi di sana,” tulis Andrew dalam memo tersebut.
Andrew juga menyatakan Meta tidak sepenuhnya menghentikan pengembangan headset VR. Divisi tersebut akan beroperasi sebagai organisasi yang lebih ramping, dengan peta jalan yang lebih terfokus demi menjaga keberlanjutan jangka panjang.