finnews.id – Lonjakan kasus influenza dilaporkan memunculkan kebijakan sekolah daring (online) di Inggris. Kabar ini memicu kekhawatiran serupa di tanah air.
Namun, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bergerak cepat menenangkan publik dengan menegaskan bahwa situasi varian H3N2 atau “Super Flu” di Indonesia saat ini tidak menuntut kebijakan ekstrem seperti masa pandemi COVID-19 lalu.
Menurut Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Aji Muhawarman, aktivitas pendidikan dan ruang publik tetap berjalan normal, mengingat karakteristik virus dan data lapangan yang ada masih menunjukkan tingkat risiko yang terkendali.
“Belum ya (arah sekolah online). Keputusan kebijakan kita ditentukan berdasarkan data dan fakta yang ada di kita. Kita tidak bisa ujug-ujug menyamakan situasi saat ini dengan saat pandemi COVID, karena situasinya berbeda,” ujar Aji dalam konferensi pers, Rabu 7 Januari 2026.
Menanggapi langkah yang diambil beberapa sekolah di Inggris, Kemenkes menjelaskan bahwa setiap negara memiliki profil epidemiologis yang berbeda.
Indonesia sendiri mengandalkan laporan berkala dari 88 Puskesmas sentinel, rumah sakit, hingga Balai Kekarantinaan Kesehatan untuk memantau situasi secara real-time.
Meskipun Kemenkes terus memantau laporan dari lembaga dunia seperti WHO dan CDC, kebijakan domestik akan tetap berpijak pada kondisi lokal.
Sejauh ini, pantauan terhadap indikator Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) menunjukkan bahwa serangan virus ini masih dalam kategori ringan hingga sedang.
“Kita tidak lengah, dan kita juga tidak menganggap enteng, jadi kewaspadaan tetap kita lakukan. Nanti kita pantau apakah secara epidemiologis situasi ini masih ringan, sedang, atau sudah tinggi,” ujarnya.
Hasyim Ashari (Disway)